Rasanya rindu sekali. . .

Suara aliran sungai, udara yang sejuk, hijaunya pegunungan, aku merindukan semua itu. Sejak kulangkahkan kaki di kota pahlawan ini dua tahun yang lalu, jarang kutemukan suasana yang seperti itu. Ya, aku merupakan salah seorang yang ‘beruntung’ bisa melanjutkan sekolah di kota Surabaya ini. Bisa berada diantara orang-orang hebat, kuliah di kampus terkenal, dan banyak hal lainnya yang membuat aku betah berada disini dan patut aku syukuri. Namun, tetap saja ada hal yang tak tergantikan yang tidak bisa aku dapatkan disini. Suasana alamnya, itu yang ingin kuceritakan padamu.

Takengon, yaah Takengon adalah kota kelahiranku. Kota tercinta ini terletak di dataran tinggi Gayo*. Orang-orang sering menyebutnya dengan julukan ‘Kota Dingin’, karena sejuknya udara pegunungan di sekitarnya. Kotaku ini, memiliki kekayaan alam yang berlimpah ruah, hampir di setiap daerah terdapat perkebunan kopi yang luas. Karena memang, Daerahku termasuk salah satu daerah penghasil kopi terbanyak di Indonesia yang terkenal dengan produknya ‘Kopi Gayo’. Selain itu, bermacam ragam jenis buah dan sayuran menyebar di seantero kawasan kota dingin ini.

Bicara tentang buah-buahan, bulan Maret dan November termasuk bulan-bulan yang spesial. Pasalnya pada bulan-bulan tersebut, musim durian dimana-mana. Kalau aku sih, ga perlu nungguin semalaman di kebun untuk menunggu durian-durian tersebut jatuh, karena tepat di belakang rumah nenekku tumbuh pohon durian yang batangnya menutupi atap rumah, sehingga apabila seng di rumah nenekku berbunyi, sudah bisa ditebak kalau itu adalah suara durian yang jatuh, biasanya aku dan pamanku langsung mengambilnya haha.

Sudah ya, mbahas buahnya. Sekarang mbahas wisata alamnya aja. Di Takengon, terdapat satu danau yang sangat indah. Namanya ‘Danau Lut Tawar’, danau tersebut terletak tepat di tengah-tengah kota dingin ini. masyarakat sekitar danau banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Di danau tersebut juga terdapat ikan khas Gayo, yaitu ikan ‘Depik’. Ikan Depik tersebut, hanya ada di Takengon lo . Bentuknya kecil-kecil, kalo disini mirip-mirip sama wader lah, tapi bukan wader loh ya…

Selain danau Lut Tawar, ada juga ‘Atu Belah’, yaitu batu besar yang memiliki celah di tengahnya seperti bekas terbelah, konon di celah tersebut terdapat 7 helai rambut manusia. Atu belah memang termasuk salah satu wisata sejarah yang terletak di desa Penaron, kalau masalah asal-usulnya ku ceritakan di lain hari saja hehe.

Setiap sesuatu pasti memiliki pasangan. Ada malam, ada siang. Ada langit, ada bumi. Begitu juga disini, di tengah sejuknya udara khas pegunungan,  Allah menitipkan kepada kami sebuah gunung merapi atau ‘bur Gayo’ yang mengalirkan panas di bawah tanahnya. Sehingga, di sekitar kawasan ‘bur Gayo’ tepatnya di Simpang Balek dan Bandar Lampahan. Terdapat pemandian air panas 'weh pesam' yang selalu ramai dikunjungi orang-orang. Aku dan teman-teman juga sering kesana, biasanya sih berangkat setelah maghrib. Karena, waktunya pas, dan pengunjung juga belum terlalu ramai.

Tapi, yang paling aku rindukan juga the ‘spesial menu’ kesukaanku yaitu tarok jipang* dan cecah angur*. Ike nge oya pong kero geh, kenake namah we*. Haha

Sudah ya, semakin banyak aku cerita semakin kangen aja aku ama semuanya. Semoga pas aku pulang nanti hal-hal yang aku rindukan masih bisa aku temui. Aamiin 

Sekian, saya pamit dulu. . .

*Gayo : Suku yang mayoritas tinggal di daerah dataran tinggi di provinsi Aceh. Diantaranya : Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara
*Weh Pesam : Air panas (bhs gayo)
*Tarok Jipang : Daun Jipang (bhs gayo)
*Cecah Angur : Sambal 'spesial' khas Gayo
*Kalau udah itu lauknya. pasti pengennya nambah terus