(bukan) Selamat Tinggal

Banyak cara anak muda untuk menghabiskan sabtu malamnya. Ada yang bersantai sambil bercanda ria bersama keluarga tercinta di rumah, ada yang bersetelan bagus membawakan bunga untuk sekedar mengajak kekasihnya makan, ada juga yang berdiam diri di kamar kos entah untuk bermain game atau tidur. Namun berbeda dengan kami, kami mengisi malam minggu kami dengan menghabiskan waktu di tengah-tengah "keluarga" di "rumah" yang kami tinggali selama 4 tahun berada disini.

Malam ini tak sama, meski terlihat sama dengan malam-malam yang biasanya. Malam ini berbeda, berbeda dengan puluhan-bahkan ratusan malam minggu yang telah kami lewati. Malam ini kami tetap berkumpul, bercerita, tertawa, bahkan menangis sama seperti malam yang sudah pernah kami lewati sebelumnya. Malam ini berbeda, karena kami tak pernah tahu apakah kami masih memiliki malam-malam yang bisa kami habiskan untuk sekedar bertatap mata. Malam ini (bukan) malam perpisahan. 

Pernahkah kau melihat pelangi? Ia tampak indah dengan 7 warnanya bukan? Ia selalu hadir setelah badai menerpa. Namun, maukah kau kuberitahu ada yang tak kalah indahnya dengan pelangi? Jawabannya adalah "mereka". Mereka yang bertemu dalam takdir, yang akan terpisah juga karena takdir. Pelangi sungguh terlihat indah dengan spektra me-ji-ku-hi-bi-ni-u nya. Namun mereka, dengan 31 warna dari setiap seseorangnya membuat mereka terlihat jauh lebih indah dibanding pelangi. Merekalah para awak kapal yang dinahkodai dengan 2 orang kapten dengan sifat yang berbeda, mengarungi samudera dengan bahtera yang sama, Bahtera yang mereka sebut sebagai "keluarga". 

4 tahun lamanya sudah mereka berkelana bersama, mengarungi lautan ganas namun mereka tetap teguh bersama. Meski badai datang, mereka bahu-membahu untuk menarik layar. Meski beberapa dari mereka ada yang tak sanggup dan memilih untuk mendoakan mereka saja. Layaknya para petualang lainnya, tiap awak kapal memiliki mimpi dan angan yang terkadang berbeda ketika memutuskan untuk ikut berlayar. Namun, meskipun demikian mereka memutuskan untuk tetap bersama hingga saat ini. 

Mungkin memang sudah saatnya kapal ini melempar sauh, mengirim kapal-kapal kecil mereka untuk mengejar mimpi mereka masing-masing hingga ke ujung dunia. Toh memang sudah nasabnya pertemuan selalu dipasangkan dengan perpisahan. Mereka yang dipertemukan dengan takdir, harus menerima juga ketika tiba saatnya dipisahkan. Sudah saatnya bahtera ini berlabuh, sambil menunggu kabar dari anak-anak kapalnya ketika mereka kembali dengan senyum ceria karena telah berhasil meraih apa yang diimpikannya. Meski tanpa mengucap janji akan bertemu, jauh di dalam lubuk hati mereka mengikrarkan sendiri kalau mereka akan kembali bertemu. Bersua kembali, saling berbagi cerita, menertawai kekonyolan yang lain, bersedih ketika yang lain bersedih dan banyak hal lainnya yang bisa mereka lakukan ketika bersama. Dan beberapa hari lagi mereka akan berlayar dengan kapal masing-masing untuk menjemput mimpi mereka.

Pertemuan memang sudah didesain agar selalu berdampingan dengan perpisahan. Namun maukah kau percaya? Seperti aku yang mempercayainya. Bahwa di balik perpisahan yang terjadi akan ada pertemuan kembali. Pertemuan takdir, sama seperti kita yang dipertemukan sebelumnya. Di saat itu tiba aku yakin kalian sudah berhasil menggenggam mimpi-mimpi kalian. Di saat itu tiba, masih maukah kau berbagi cerita? kesenangan maupun kesedihan, berbagilah padaku. Sama sepertiku yang akan membagikan kisahku pada kalian. Maukah kalian berdoa, sampai saat itu tiba? Sama sepetiku yang tak pernah alpa menyebut kalian dalam tiap pertemuanku dengan-Nya. Maukah tetap memanggilku keluarga? Sama sepertiku yang selalu merindukan kalian sebagai saudara. 


Semoga kalian mau :) 
Sekali lagi ini (bukan) perpisahan. Ini hanya persiapan untuk pertemuan kedua kita nanti :)

Surabaya, 13 September 2015
~ Ayip ~                  

Kembali

Aku hampir tak mengenali tempat ini. Begitu sepi dan gelap. Banyak sarang laba-laba bergelantungan di sudut-sudut ruangan. Debu-debu menempel di setiap perabotannya. Entah berapa lama aku pergi, aku hampir lupa. Terlalu sibuk menghadapi dunia luar yang tak mengenal kata istirahat membuatku jarang mengunjungi tempat ini. Tanaman-tanamannya yang layu adalah bukti bahwa sudah terlalu lama aku tidak disini.
Ku buka jendela agar angin segar memasuki rumah mungil ini. Kulihat rumah sebelah, halamannya yang asri dan bunga-bunga yang bermekaran menandakan bahwa ia terawat dengan baik. A Danbe. Begitulah namanya sesuai dengan kotak pos yang ada di depan rumahnya. Tanamannya tampak segar sore ini, tampaknya ia baru saja menyiramnya. Jadi teringat dulu sebelum aku memutuskan untuk pergi sejenak, aku sering menemukan sang empunya tengah asyik menyirami bunga sambil memberi makan kucing peliharaannya. Sepertinya dia masih sering melakukannya meskipun di tengah padatnya aktivitasnya. Tetanggaku yang satu ini emang baik, dulu Ia juga sering mengantarkan pie apel ke rumahku, meskipun aku jarang mengembalikan wadahnya.



Aku bergegas menuju belakang. Aku tak bisa duduk-duduk saja dengan tenang melihat ruangan tak tertata seperti ini. Debu-debu yang menempel aku bersihkan, sarang laba-laba di sudut ruangan pun meminta untuk dihilangkan. Selanjutnya ku sapu dan ku pel lantainya. Sofa, meja dan beberapa barang-barang lain aku pindahkan posisinya untuk mengubah suasana. Dan selesai. Tak memakan banyak waktu, karena aku sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Adzan magrib berkumandang mengajak hati untuk bertemu Sang Pencipta. Dengan sigap ku ambil handukku dan bersiap-siap untuk berjamaah ke masjid.
Di perjalanan sepulang dari masjid ku lihat rumah-rumah yang lain. Rumput-rumput di halaman mereka juga sudah cukup tinggi, lampunya juga tidak menyala, sepertinya si empunya juga sedang tidak di rumah. Berjejer rumah nomor 54, dan nomor 3 milik hipokampus juga tampaknya sudah tak dihuni lagi, mungkin pemiliknya sudah berpindah tempat. Selanjutnya A Danbe nomor 2 dan rumahku sendiri nomor 1.
Tubuh yang lelah setelah aktivitas panjang membuat mata ini mengantuk. Ku coba menghilangkannya dengan berniat membuat segelas kopi. Ketika sampai di dapur aku baru ingat bahwa kulkasku kosong. Aku lupa berbelanja sebelum pulang tadi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari depan ......... (bersambung)

Kesuksesan Sejati, Kebahagiaan Hakiki

Sukses? Tentu kata ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bagi sebagian dari kita, sukses mungkin adalah kondisi dimana kita berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Namun, apakah kesuksesan setiap orang bisa diukur dengan tolok ukur yang sama? Apakah sukses melulu soal kekayaan, karir maupun profesi? Tentu tidak bukan? Setiap orang memiliki standar kesuksesan masing-masing yang mungkin berbeda dengan yang lainnya. Tentu anda juga punya pandangan tersendiri tentang kesuksesan. Namun tahukah anda kesuksesan sejati yang hanya sebagian orang menyadari? Berikut ulasan tentang kesuksesan dan beberapa cara untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sukses berarti berhasil atau beruntung, sedangkan kata kesuksesan bermakna keberhasilan atau keberuntungan. Jadi bisa dianggap bahwa sukses adalah keberhasilan dalam mencapai tujuan tertentu. Setiap personal tentu memiliki tujuan yang berbeda dalam hidupnya, jadi sampai saat ini belum ada tolok ukur tertentu seseorang bisa dikatakan telah sukses. Kesuksesan bisa jadi berbeda tergantung dari sudut pandang sesorang, misal seorang petani yang sudah bertahun-tahun bekerja di sawah sampai saat ini masih tetap menjadi petani saja, apakah hal itu menandakan bahwa ia tidak sukses karena hanya bertani saja? Tentu tidak bukan? Bahkan seorang petani juga memiliki standar kesuksesan tersendiri. Misal, tahun ini bisa panen 3 kali, maka tahun depan berusaha untuk bisa panen 4 kali. Meskipun jika tahun depan ia tidak bisa memanen sebanyak 4 kali, bukan berarti ia tidak sukses. Bukankah bisa menghasilkan padi yang baik dan akhirnya bisa menjadi konsumsi pokok sehari-hari adalah suatu kesuksesan? Seorang pedagang juga, apabila ia telah lama berdagang dan tokonya tetap saja kecil, sama seperti saat ia mulai berdagang, apakah yang demikian bisa kita sebut bahwa pedagang tersebut gagal? Tentu tidak, bisa jadi tujuannya berdagang bukan hanya demi mendapatkan materi semata-mata, namun bisa memberi kehidupan yang layak bagi keluarganya sudah cukup baginya. Hal tersebut juga bisa dikatakan bahwa ia telah mencapai dan menikmati kesuksesannya sendiri.

Namun di era saat ini, kesuksesan seolah-olah sudah memiliki ukuran tersendiri. Berprofesi sebagai bos di perusahaan besar, punya rumah mewah, pergi kemana-mana mengendarai kendaraan pribadi dan lain sebagainya baru dianggap sukses. Apabila sukses hanya dilihat dari kacamata dunia yang penuh hegemoni ini tentu orang yang memiliki itu semua dianggap sukses, karena memang jalan yang ditempuh untuk menggapai itu semua juga berat. Namun, sukses tidak melulu tentang materi, pekerjaan maupun jabatan. Sukses tak melulu tentang dunia, yang semua orang seolah-olah berusaha mendapatkannya. Di luar itu semua, ada kesuksesan sejati yang hanya sebagian orang menyadarinya, sukses akhirat. Bagi mayoritas umat muslim di dunia, kesuksesan terbesarnya adalah menggapai ridho-Nya di surga kelak. Mencapai hal tersebut tentu juga bukan hal mudah, namun sifat Rahman dan Rahiim-Nya Allah membuat semuanya menjadi mudah. Seorang pemuda sebatang kara, miskin, tak memiliki apa-apa juga mempunyai cara tersendiri untuk menggapai ridho-Nya. Ia bisa tinggal di Masjid ataupun Musholla, berprofesi sebagai mu’adzin, membersihkan masjid, tentu ia memiliki kebahagiaan tersendiri melakukan itu semua. Mungkin ada beberapa komentar dari orang lain kalau ia hanya pemuda masjid yang pengangguran. Namun, terserah kata oranglah itu semua tidak berarti karena baginya kesuksesan dan kebahagiaan sejati terletak pada surga-Nya. Seorang penjual sayur, yang sehari-hari berkeliling dari desa ke desa untuk menjajakan dagangannya. Mungkin penghasilannya tidak seberapa, namun apabila hal tersebut bermanfaat bagi orang lain tentu ia merasakan kesuksesan tersendiri. Menghidupi keluarganya dengan hasil keringat sendiri, serta mengantarkan sayuran untuk makanan sehari-hari warga sekitar pasti adalah hal yang mungkin orang anggap biasa, karena hanya para pencari kebahagiaan sejatilah yang mengetahui bahwa orang tersebut sudah mencapai titik suksesnya.

Pada akhirnya kesuksesan adalah hal yang orang rasakan ketika ia bisa tersenyum bahagia karena telah mencapainya. Buat apa kekayaan berlimpah, mobil mewah, apabila orang yang memilikinya tak merasakan bahagia. Kesuksesan sejati adalah kebahagian yang didapat. Dan kesuksesan sejati harus kita gapai dengan keringat dan air mata. Tak dipungkiri kita harus mencapai kesuksesan di dunia, karena kita hidup di dalamnya. Namun kita juga tak boleh melupakan kebahagiaan hakiki yang harus kita gapai demi mendapat rahmat-Nya. Dan sungguh berbahagialah seseorang yang bisa mendapat keduanya. Dihormati dan dicintai di dunia, serta mendapat surga-Nya di akhirat kelak. Semoga kita termasuk di dalamnya.

*dimuat dalam antologi "Sukses Terbesar dalam Hidup" yang diterbitkan oleh Aria Mandiri Publisher