Kembali

Aku hampir tak mengenali tempat ini. Begitu sepi dan gelap. Banyak sarang laba-laba bergelantungan di sudut-sudut ruangan. Debu-debu menempel di setiap perabotannya. Entah berapa lama aku pergi, aku hampir lupa. Terlalu sibuk menghadapi dunia luar yang tak mengenal kata istirahat membuatku jarang mengunjungi tempat ini. Tanaman-tanamannya yang layu adalah bukti bahwa sudah terlalu lama aku tidak disini.
Ku buka jendela agar angin segar memasuki rumah mungil ini. Kulihat rumah sebelah, halamannya yang asri dan bunga-bunga yang bermekaran menandakan bahwa ia terawat dengan baik. A Danbe. Begitulah namanya sesuai dengan kotak pos yang ada di depan rumahnya. Tanamannya tampak segar sore ini, tampaknya ia baru saja menyiramnya. Jadi teringat dulu sebelum aku memutuskan untuk pergi sejenak, aku sering menemukan sang empunya tengah asyik menyirami bunga sambil memberi makan kucing peliharaannya. Sepertinya dia masih sering melakukannya meskipun di tengah padatnya aktivitasnya. Tetanggaku yang satu ini emang baik, dulu Ia juga sering mengantarkan pie apel ke rumahku, meskipun aku jarang mengembalikan wadahnya.



Aku bergegas menuju belakang. Aku tak bisa duduk-duduk saja dengan tenang melihat ruangan tak tertata seperti ini. Debu-debu yang menempel aku bersihkan, sarang laba-laba di sudut ruangan pun meminta untuk dihilangkan. Selanjutnya ku sapu dan ku pel lantainya. Sofa, meja dan beberapa barang-barang lain aku pindahkan posisinya untuk mengubah suasana. Dan selesai. Tak memakan banyak waktu, karena aku sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Adzan magrib berkumandang mengajak hati untuk bertemu Sang Pencipta. Dengan sigap ku ambil handukku dan bersiap-siap untuk berjamaah ke masjid.
Di perjalanan sepulang dari masjid ku lihat rumah-rumah yang lain. Rumput-rumput di halaman mereka juga sudah cukup tinggi, lampunya juga tidak menyala, sepertinya si empunya juga sedang tidak di rumah. Berjejer rumah nomor 54, dan nomor 3 milik hipokampus juga tampaknya sudah tak dihuni lagi, mungkin pemiliknya sudah berpindah tempat. Selanjutnya A Danbe nomor 2 dan rumahku sendiri nomor 1.
Tubuh yang lelah setelah aktivitas panjang membuat mata ini mengantuk. Ku coba menghilangkannya dengan berniat membuat segelas kopi. Ketika sampai di dapur aku baru ingat bahwa kulkasku kosong. Aku lupa berbelanja sebelum pulang tadi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari depan ......... (bersambung)