Hari
ini Allah telah menunjukkan lagi padaku kepingan hidup yang baru, yang mungkin
selama ini kucari bertahun-tahun. Kepingan berupa kebahagian yang hadir bersama
senyuman orang-orang yang kusayangi. Tentu bahagia ini tak hanya datang dari
usaha semata, melainkan dari doa-doa semuanya, dan Allah yang menjawabnya.
Akhirnya aku wisuda.
Rasanya
begitu cepat, pun juga begitu lama. Entahlah. Waktu layaknya dimensi yang sulit
untuk dipikirkan. Ia terasa begitu cepat bagi mereka yang sedang dilanda
asmara, pun terasa begitu lambat berputar bagi mereka yang tengah menunggu. Cepat
atau lambat waktu akan tetap berjalan. Hingga ketika kita sadar kita telah
berada di tempat yang jauh dan tak mungkin kembali lagi. Itulah mengapa ada
pepatah mengatakan “waktu adalah pedang”, ya ia siap menebas siapa saja yang
lalai. Maka dari itu kita tak boleh menyia-nyiakan waktu sedetikpun. Berharga
atau tidaknya waktu baru akan terasa ketika kita telah melangkah jauh, dan
beruntunglah bagi mereka yang menghabiskan waktunya dengan senantiasa melakukan
hal-hal yang baik.
Roda kehidupan juga terus berputar, tak ada yang
bisa menebak kapan ia berada di atas kapan berada di bawah. Antara susah dan
senang, antara sedih dan bahagia, antara tangis dan tawa, sebentar atau lama, semua
pasti berlalu. Begitulah kehidupan. Aku bersyukur telah melalui semuanya
bersama mereka, orang-orang hebat yang senantiasa mendukung dan menemani tiap
langkah yang telah terlewati.
***
25
Juli 2005
Hari
pertamaku meninggalkan rumah. Mulai merantau untuk menimba tetes demi tetes
ilmu dari sumber apa saja. Pondok Pesantren Nurul Islam adalah tujuan
pertamaku. Berjarak 55 KM dari rumah, aku harus melalui jalan berkelok-kelok
dan naik turun selama hampir 2,5 jam dengan menumpang bis umum untuk menuju
tempat ini. Tak semuanya mulus, kadang ada saja halangan. Tahun pertamaku
kulalui dengan sering sakit-sakitan, mungkin aku adalah salah satu santri yang
memiliki fisik terlemah di saat itu. 3 tahun kulalui semua rintangan itu dengan
tangis dan senyum, tentunya dengan sahabat-sahabat senasib seperjuangan. 3
Tahun berlalu, sekolah menengah pertamaku di Madrasah Tsanawiyah Nurul Islam
telah kulewati. Namun aku tak langsung pulang, aku memutuskan melanjutkan
Aliyah disana. Berawal dari santri lemah yang sering sakit-sakitan, sistem imun
tubuhku berkembang lebih kuat dibanding teman-temanku, entah itu adalah teori
yang benar atau hanya sebatas sugestiku saja, yang jelas saat Aliyah aku sudah
jarang sekali sakit, aku tak lagi si lemah dulu. Sekarang aku sama seperti yang
lainnya, setiap sore berolahraga ria di lapangan depan masjid. Aku juga mulai
sering menjadi “tumbal” yang dikirim mewakili pesantren maupun kabupaten. Dari
sanalah aku bertemu banyak teman baru dan ilmu baru. Semakin lama aku semakin
sadar bahwa ilmu yang kumiliki masih sedikit sekali. Kata ayah di tanah Jawa,
banyak tempat kuliah yang bagus, dan tentunya lebih banyak wawasan yang kudapat
jika aku berangkat kesana. Sudah kuputuskan selepas Aliyah aku ingin berangkat
ke Jawa. Selepas kelulusan, aku dan teman-teman mulai berburu informasi tentang
tempat kuliah terbaik.
Roda
kehidupan berputar lagi disana, layaknya para pejuang lain, tak ayal sering
kutemukan hal-hal yang tak diharapkan, kegagalan. Entah berapa kali mencoba di
universitas-universitas yang berbeda, menunggu kabar berminggu-minggu tanpa
kepastian, dan di saat hari-H tiba justru kabar buruklah yang diterima. Pepatah benar, kau harus jatuh terlebih dahulu
untuk bangkit. Untuk belajar menerima semua kondisi yang telah diberikan. Pada akhirnya
kita tetaplah manusia, yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha, berusaha dan
terus berusaha dibantu dengan doa dari diri sendiri dan dari sekitar.
Percayalah Allah tidak buta akan usaha-usaha hambaNya dan tidak pula tuli
terhadap doa-doa kita. Mungkin Allah hanya ingin menguji hambaNya lebih dan
menjawab doa-doa hambaNya di waktu yang lebih tepat. Akhrinya di tengah
keputusasaan tersebut, muncullah berita baik. Alhamdulillah aku keterima di
Universitas Airlangga, dan juga sebagai salah satu penerima beasiswa santri.
Sujud syukur yang tak terkira, akhirnya Allah menjawab doa-doa kami. Aku kuliah
di Jawa!
Perjuangan
tak hanya sampai disana, kabar tentang tes lanjutan kembali menghantui.
Bayang-bayang tentang kegagalan kembali mengusik waktu tidurku. Dan bayangan
itu benar-benar datang, mencekikku dengan nyata, seolah-olah berkata “pulanglah
saja, tempatmu bukan disini”. Sedih? Pasti. Tak hanya diriku, ini juga
kesedihan bagi kedua orang tua dan teman-teman yang melepas kepergianku dengan
air mata. Rasanya malu sekali, karena sampai di titik ini, aku masih saja
melakukan kesalahan. Namun, prajurit yang tangguh tak kan pernah menyerah
bukan? Karena untuk menjadi kesatria memang dibutuhkan tangis dan air mata.
Kuputuskan aku menetap disini, mencari informasi tempat kuliah yang lain.
Layaknya
gelap dan terang, manis dan pahit, kesedihan juga akan datang dibarengi dengan
kebahagiaan. Muncul kabar untuk tes kedua. Dengan meminta doa restu, kumulai
lagi dengan mengucap bismillah. Saat itu, aku sudah mendaftar di universitas
lain, dan tak terlalu berharap hasil bagus. Mungkin Airlangga emang terlalu
tinggi untuk bisa kumasuki. Kenyataan mengatakan lain, tes keduaku menyatakan
bahwa aku lulus. Alhamdulillah, sungguh Allah menurunkan kesenangan setelah
kesulitan. Akhirnya aku bisa bergabung dengan 30 anak lainnya (yang saat ini
menyebut nama mereka sebagai angkatan kepompong).
Tentunya,
roda kehidupan tak berhenti disana bukan? Ia masih tetap berputar dan terus
berputar. Masa-masa sulitku di semester awal, berjibaku dengan mata kuliah
dasar yang sama sekali awam, menjadi bike
traveler sendirian, berburu ta’jil
di bulan Ramadhan, menghabiskan lebaran idul fitri dengan tidur seharian
(karena sakit), suka sama orang tapi Cuma bisa diam (eh), tidur di pinggir
jalan karena jemputan tak kunjung datang, dan masih banyak hal lainnya. Banyak
hal telah terjadi, entah itu datang membawa berita gembira atau malah
sebaliknya. Yang jelas semua hal itulah yang telah membentuk diriku saat ini.
Segala sesuatu tentunya memiliki alasan mengapa ia terjadi. Selama kita bisa
menghadapinya dengan bersyukur dan tidak mengeluh, insya Allah segala sesuatu
itu akan berbuah berkah.
***
19 Maret 2016
Rentetan-rentetan
peristiwa terus terbayang di kepala layaknya rol film dokumenter yang sedang diputar
terus menerus. Hingga rol itu berhenti. Disini. Di antara ribuan mata yang
memandang, dan ribuan doa yang terus mengalir, serta ribuan senyuman yang
memiliki masing-masing arti. Disini aku berdiri, mengenakan toga kebesaran,
menyalami pak dekan dan dilepas dengan gelas S.Si dan tanggung jawab yang
menyertai gelar tersebut. Disini aku, akhirnya wisuda.
PS : Big thanks buat Ayah dan Ibu
atas dukungan, restu dan doa-doanya selama ini sehingga aku bisa sampai di
titik ini. buat adik-adik Ifa dan Nisa, semoga kalian senantiasa menjadi anak
yang berbakti bagi kedua orang tua kita dan menjadi manusia yang berguna bagi
sekitarnya. Buat Fiza dan Samsul, tetap semangat kawan, percayalah kemenangan
akan datang bagi mereka yang tidak kenal kata menyerah, dan aku percaya kalian
bisa melakukannya. Buat sahabat sekaligus rival terbaik (maya dan nyata :p)
Anne-san, semoga Allah selalu meridhoi dan memudahkan jalanmu dan semoga
kesuksesan selalu menyertaimu. Buat mbak Daris, terimakasih sudah menjadi sosok
kakak yang baik, menyenangkan dan selalu menginspirasi. Dan buat Nurul, semoga
Allah selalu melindungimu dimanapun kamu berada. Serta buat semua teman-teman,
bomber Ira, Fera, Kokom, Dedek, Ridwan, Sis, Safa, Sangit, mbak Halimah, mbak
Arju, mbak Fidah, mbak Mela, Imem, Fahmi Saudara-saudari angkatan kepompong, Teman-teman
MAKENI, Sahabat Mahacafe, Teman-teman Angkringan Vintage, Teman-teman Pipet Tetes XI, Teman-teman Kimia
2011, Keluarga besar CSS MoRA Unair, Teman-teman KKN 51 Dlururejo, Buat Depag
juga (sekarang Kemenag) sudah memberi kesempatan istimewa ini, buat ustadz-ustadzah
di Nurul Islam, dosen-dosen, karyawan, pegawai lab dan semua-muanya yang tak
bisa disebutkan disini, semoga kebaikan selalu menyertai kalian semua. Aamiin.
Surabaya, 19 Maret 2016










