Cuaca malam itu sungguh bagus. Meski tak terlihat bintang yang berkelipan, para penumpang pesawat tampak tenang. Sebagian dari mereka asik bercakap-cakap dengan teman di sebelahnya. Sebagian lagi asik melahap makanan yang baru saja disajikan. Ada pula yang terlihat lelap dalam tidurnya. 



Di salah satu bangku penumpang, seorang gadis berkerudung merah tampak serius mencoret-coret notesnya. Sambil mendengarkan musik melalui earphone, ia tampak menikmati kegiatannya tersebut. Gadis tersebut bernama Aisyah Nur Azkiya. Ia adalah salah satu mahasiswi berprestasi yang akan melaksanakan program Student Exchange di kampus luar negeri. Aisyah berhasil melewati seleksi super ketat yang diadakan oleh kampus, mengalahkan ratusan pesaing bersama dengan 4 orang lainnya dengan program yang berbeda. Mereka berlima akan melaksanakan program tersebut selama 2 semester di negeri Sakura. 

"Selesai!" Ucap Aisyah lirih. Ia mematikan musik dan melepas earphonenya. Kemudian ia kembali memandangi hasil corat-coretnya di kertas. List target yang harus ia capai dan halal baru yang harus dipelajari tertera dengan rapi disana. Baginya, bisa berangkat ke luar negeri bukanlah hal yang harus ia banggakan, melainkan apa yang bisa dipelajari nya di negeri orang itulah yang harus ia kejar. Program pertukaran mahasiswa ini bukanlah ajang untuk main-main. Berapa banyak orang lain yang ingin berada di posisinya untuk mencari ilmu, namun harus merelakan tekadnya karena tak lolos seleksi. "Bukankah zalim jika aku hanya main-main? " Ucapnya dalam hati. " Aku tak boleh membiarkan waktuku menjadi sia-sia disana. Aku harus belajar dengan giat! " Lanjutnya. 

Aisyah melirik jam tangannya, sudah pukul 20.19. Cacing di perut sudah meronta-ronta minta diisi. Ia teringat belum makan sejak naik pesawat. Aisyah segera merapikan buku catatan dan alat tulisnya dan mengeluarkan kotak makanan. Setelah membaca do'a, gadis itu makan dengan perlahan. 

- to be continued... 

#challengecomeback13desember2020

 Langit sore tampak cerah. Semburat warna jingga hiasi angkasa, pertanda mentari akan segera kembali ke peraduannya. Dalam hati aku bersyukur, cuaca cerah tidak akan mengganggu perjalanan langit. Semoga selamat sampai tujuan, gumamku. 


Akhirnya aku tiba di kosan. Kuhempaskan tasku di atas meja dan kubaringkan tubuhku di atas kasur yg mulai menipis. Lelah. Ketika mata hendak terpejam, kulirik jam dinding menunjukkan pukul 16.55. Celaka! Aku teringat belum sholat ashar. Segera kuambil handuk dan menuju kamar mandi. Kran kuhidupkan dan kurasakan segarnya air yang mengalir. Segera aku mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat. Selepas sholat, kuistiratkan tubuh sejenak sambil berzikir. Tak lama kemudian aku tertidur. 


***


"Allahu Akbar... Allahu Akbar.... "

Suara azan membangunkanku dari tidur. Aku segera bangun dan bersiap untuk sholat berjamaah. Selepas mengaji, kubuka laptopku. Aku teringat bahwa ada revisi yang belum kukerjakan. Kulihat kalender di dinding, angka yang kulingkari semakin mendekat. Ya, aku harus mengejar sidang bulan depan. Kalau tidak, terpaksa harus menambah satu semester lagi, dan tentunya itu tak boleh kulakukan. Teringat bahwa jatah beasiswaku tinggal semester ini saja, dan jika terpaksa harus lanjutpun aku tak yakin punya biaya. Beruntung aku punya partner penelitian yang baik. Dia selalu membantu dan mengajariku ketika ada hal yang tak kupahami. Aku benar-benar bersyukur masih diberi kesempatan bisa berkuliah dengan beasiswa dan bertemu dengan orang-orang yang hebat, serta masih punya orang tua yang selalu mendukung dan menyemangatiku. Demi mereka, aku harus lulus tahun ini! Tekadku dalam hati. 


Kubuka lembaran skripsiku. Masih ada beberapa variabel yang harus diuji ulang, dan aku masih kekurangan referensi. Kubuka link jurnal yang dikirim kawanku, setelahn mengetik beberapa kata dan mengklik tombol pencarian, berbagai jenis jurnal yang berhubungan dengan penelitianku muncul. Aku harus memfilternya. Semangat-semangat! Ucapku dalam hati. Tak terasa azan isya pun berkumandang. Kusimpan file-file yang kubutuhkan dan aku bergegas menuju masjid. Panggilan Allah lebih penting dari apapun. 


- to be continued...

#challengecomeback30november2020

"Jika kau ingin meraih langit, maka kau harus berani untuk terbang. Kalau kau tetap tak berani, aku siap jadi tanggamu" 

***


Kupercepat laju motorku. Masih ada 2 tikungan lagi untuk tiba di tujuan, ditambah dengan waktu parkir, fix! Aku terlambat. 

"Pesawat dengan kode penerbangan Ai 202 akan segera berangkat. Penumpang yang masih berada di luar, harap segera menaiki pesawat" suara pengumuman terdengar dari speaker yang berada di ruang parkir. Setelah mengunci motorku, ku berlari ke ruang tunggu keberangkatan. Sialnya aku lupa, tanpa tiket aku tak bisa masuk. Beberapa petugas terlihat di pintu masuk. Aku berusaha menjelaskan bahwa urusan ini sangat penting, namun sia-sia saja. Mereka bahkan tak mengijinkanku bergerak barang selangkahpun melewati pintu masuk. Aku berencana untuk menerobos, namun sepertinya mereka tahu maksudku sehingga mereka tak melepas pandangannya dariku. Aku putus asa. Merutuk kenapa bisa-bisanya aku tak memprediksi kemacetan di jalan tadi. Jika saja aku berangkat lebih cepat, tentu aku masih punya kesempatan. Bunyi dari pengeras suara membuyarkan lamunanku. 
"Pesawat dengan kode penerbangan Ai 202 akan segera berangkat. Penumpang yang masih berada di luar harap segera menaiki pesawat"
"Gawat! " Aku benar-benar harus masuk. Ketika pandangan para petugas beralih, aku mengambil ancang-ancang untuk menerobos. Tiba-tiba... 
"Ting! "
Ponselku berbunyi. Ternyata ada pesan : 

" Aku sudah naik pesawat ya. Ni udah mau berangkat. Doakan ya semoga selamat sampai tujuan dan dimudahkan segala urusan. Jaga dirimu baik-baik sampai aku pulang :) 


Ps : tenang, tadi aku sempat liat kamu kok, lari-lari sampai mau berkelahi sama petugas. Hehe. Terimakasih ya udah nepatin janji

See U "

Segera kupencet tombol panggil. "Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Silahkan tinggalkan pesan anda setelah nada berikut.... Tut... Tut... Tut... "

"Baik-baik di negeri orang. Semoga Allah selalu menjagamu"

- to be continued... 


#challengecomeback28november2020





Hari ini Allah telah menunjukkan lagi padaku kepingan hidup yang baru, yang mungkin selama ini kucari bertahun-tahun. Kepingan berupa kebahagian yang hadir bersama senyuman orang-orang yang kusayangi. Tentu bahagia ini tak hanya datang dari usaha semata, melainkan dari doa-doa semuanya, dan Allah yang menjawabnya. Akhirnya aku wisuda.

Rasanya begitu cepat, pun juga begitu lama. Entahlah. Waktu layaknya dimensi yang sulit untuk dipikirkan. Ia terasa begitu cepat bagi mereka yang sedang dilanda asmara, pun terasa begitu lambat berputar bagi mereka yang tengah menunggu. Cepat atau lambat waktu akan tetap berjalan. Hingga ketika kita sadar kita telah berada di tempat yang jauh dan tak mungkin kembali lagi. Itulah mengapa ada pepatah mengatakan “waktu adalah pedang”, ya ia siap menebas siapa saja yang lalai. Maka dari itu kita tak boleh menyia-nyiakan waktu sedetikpun. Berharga atau tidaknya waktu baru akan terasa ketika kita telah melangkah jauh, dan beruntunglah bagi mereka yang menghabiskan waktunya dengan senantiasa melakukan hal-hal yang baik.

Roda kehidupan juga terus berputar, tak ada yang bisa menebak kapan ia berada di atas kapan berada di bawah. Antara susah dan senang, antara sedih dan bahagia, antara tangis dan tawa, sebentar atau lama, semua pasti berlalu. Begitulah kehidupan. Aku bersyukur telah melalui semuanya bersama mereka, orang-orang hebat yang senantiasa mendukung dan menemani tiap langkah yang telah terlewati.
***
25 Juli 2005

Hari pertamaku meninggalkan rumah. Mulai merantau untuk menimba tetes demi tetes ilmu dari sumber apa saja. Pondok Pesantren Nurul Islam adalah tujuan pertamaku. Berjarak 55 KM dari rumah, aku harus melalui jalan berkelok-kelok dan naik turun selama hampir 2,5 jam dengan menumpang bis umum untuk menuju tempat ini. Tak semuanya mulus, kadang ada saja halangan. Tahun pertamaku kulalui dengan sering sakit-sakitan, mungkin aku adalah salah satu santri yang memiliki fisik terlemah di saat itu. 3 tahun kulalui semua rintangan itu dengan tangis dan senyum, tentunya dengan sahabat-sahabat senasib seperjuangan. 3 Tahun berlalu, sekolah menengah pertamaku di Madrasah Tsanawiyah Nurul Islam telah kulewati. Namun aku tak langsung pulang, aku memutuskan melanjutkan Aliyah disana. Berawal dari santri lemah yang sering sakit-sakitan, sistem imun tubuhku berkembang lebih kuat dibanding teman-temanku, entah itu adalah teori yang benar atau hanya sebatas sugestiku saja, yang jelas saat Aliyah aku sudah jarang sekali sakit, aku tak lagi si lemah dulu. Sekarang aku sama seperti yang lainnya, setiap sore berolahraga ria di lapangan depan masjid. Aku juga mulai sering menjadi “tumbal” yang dikirim mewakili pesantren maupun kabupaten. Dari sanalah aku bertemu banyak teman baru dan ilmu baru. Semakin lama aku semakin sadar bahwa ilmu yang kumiliki masih sedikit sekali. Kata ayah di tanah Jawa, banyak tempat kuliah yang bagus, dan tentunya lebih banyak wawasan yang kudapat jika aku berangkat kesana. Sudah kuputuskan selepas Aliyah aku ingin berangkat ke Jawa. Selepas kelulusan, aku dan teman-teman mulai berburu informasi tentang tempat kuliah terbaik.

Roda kehidupan berputar lagi disana, layaknya para pejuang lain, tak ayal sering kutemukan hal-hal yang tak diharapkan, kegagalan. Entah berapa kali mencoba di universitas-universitas yang berbeda, menunggu kabar berminggu-minggu tanpa kepastian, dan di saat hari-H tiba justru kabar buruklah yang diterima.  Pepatah benar, kau harus jatuh terlebih dahulu untuk bangkit. Untuk belajar menerima semua kondisi yang telah diberikan. Pada akhirnya kita tetaplah manusia, yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha, berusaha dan terus berusaha dibantu dengan doa dari diri sendiri dan dari sekitar. Percayalah Allah tidak buta akan usaha-usaha hambaNya dan tidak pula tuli terhadap doa-doa kita. Mungkin Allah hanya ingin menguji hambaNya lebih dan menjawab doa-doa hambaNya di waktu yang lebih tepat. Akhrinya di tengah keputusasaan tersebut, muncullah berita baik. Alhamdulillah aku keterima di Universitas Airlangga, dan juga sebagai salah satu penerima beasiswa santri. Sujud syukur yang tak terkira, akhirnya Allah menjawab doa-doa kami. Aku kuliah di Jawa!

Perjuangan tak hanya sampai disana, kabar tentang tes lanjutan kembali menghantui. Bayang-bayang tentang kegagalan kembali mengusik waktu tidurku. Dan bayangan itu benar-benar datang, mencekikku dengan nyata, seolah-olah berkata “pulanglah saja, tempatmu bukan disini”. Sedih? Pasti. Tak hanya diriku, ini juga kesedihan bagi kedua orang tua dan teman-teman yang melepas kepergianku dengan air mata. Rasanya malu sekali, karena sampai di titik ini, aku masih saja melakukan kesalahan. Namun, prajurit yang tangguh tak kan pernah menyerah bukan? Karena untuk menjadi kesatria memang dibutuhkan tangis dan air mata. Kuputuskan aku menetap disini, mencari informasi tempat kuliah yang lain.

Layaknya gelap dan terang, manis dan pahit, kesedihan juga akan datang dibarengi dengan kebahagiaan. Muncul kabar untuk tes kedua. Dengan meminta doa restu, kumulai lagi dengan mengucap bismillah. Saat itu, aku sudah mendaftar di universitas lain, dan tak terlalu berharap hasil bagus. Mungkin Airlangga emang terlalu tinggi untuk bisa kumasuki. Kenyataan mengatakan lain, tes keduaku menyatakan bahwa aku lulus. Alhamdulillah, sungguh Allah menurunkan kesenangan setelah kesulitan. Akhirnya aku bisa bergabung dengan 30 anak lainnya (yang saat ini menyebut nama mereka sebagai angkatan kepompong).

Tentunya, roda kehidupan tak berhenti disana bukan? Ia masih tetap berputar dan terus berputar. Masa-masa sulitku di semester awal, berjibaku dengan mata kuliah dasar yang sama sekali awam, menjadi bike traveler sendirian, berburu ta’jil di bulan Ramadhan, menghabiskan lebaran idul fitri dengan tidur seharian (karena sakit), suka sama orang tapi Cuma bisa diam (eh), tidur di pinggir jalan karena jemputan tak kunjung datang, dan masih banyak hal lainnya. Banyak hal telah terjadi, entah itu datang membawa berita gembira atau malah sebaliknya. Yang jelas semua hal itulah yang telah membentuk diriku saat ini. Segala sesuatu tentunya memiliki alasan mengapa ia terjadi. Selama kita bisa menghadapinya dengan bersyukur dan tidak mengeluh, insya Allah segala sesuatu itu akan berbuah berkah.
***
19 Maret 2016

Rentetan-rentetan peristiwa terus terbayang di kepala layaknya rol film dokumenter yang sedang diputar terus menerus. Hingga rol itu berhenti. Disini. Di antara ribuan mata yang memandang, dan ribuan doa yang terus mengalir, serta ribuan senyuman yang memiliki masing-masing arti. Disini aku berdiri, mengenakan toga kebesaran, menyalami pak dekan dan dilepas dengan gelas S.Si dan tanggung jawab yang menyertai gelar tersebut. Disini aku, akhirnya wisuda.

PS : Big thanks buat Ayah dan Ibu atas dukungan, restu dan doa-doanya selama ini sehingga aku bisa sampai di titik ini. buat adik-adik Ifa dan Nisa, semoga kalian senantiasa menjadi anak yang berbakti bagi kedua orang tua kita dan menjadi manusia yang berguna bagi sekitarnya. Buat Fiza dan Samsul, tetap semangat kawan, percayalah kemenangan akan datang bagi mereka yang tidak kenal kata menyerah, dan aku percaya kalian bisa melakukannya. Buat sahabat sekaligus rival terbaik (maya dan nyata :p) Anne-san, semoga Allah selalu meridhoi dan memudahkan jalanmu dan semoga kesuksesan selalu menyertaimu. Buat mbak Daris, terimakasih sudah menjadi sosok kakak yang baik, menyenangkan dan selalu menginspirasi. Dan buat Nurul, semoga Allah selalu melindungimu dimanapun kamu berada. Serta buat semua teman-teman, bomber Ira, Fera, Kokom, Dedek, Ridwan, Sis, Safa, Sangit, mbak Halimah, mbak Arju, mbak Fidah, mbak Mela, Imem, Fahmi Saudara-saudari angkatan kepompong, Teman-teman MAKENI, Sahabat Mahacafe, Teman-teman Angkringan Vintage, Teman-teman Pipet Tetes XI, Teman-teman Kimia 2011, Keluarga besar CSS MoRA Unair, Teman-teman KKN 51 Dlururejo, Buat Depag juga (sekarang Kemenag) sudah memberi kesempatan istimewa ini, buat ustadz-ustadzah di Nurul Islam, dosen-dosen, karyawan, pegawai lab dan semua-muanya yang tak bisa disebutkan disini, semoga kebaikan selalu menyertai kalian semua. Aamiin.

Surabaya, 19 Maret 2016
A.R.H