Tak
terasa kepengurusan tahun ini sudah berlalu. Tiba-tiba kepengen nulis ini.
Padahal udah pengen nulis ini sejak dulu, tapi entah kendala apa ga pernah
kesampaian. (basa-basi)
Amanat?
Apa itu amanat? Apakah sama dengan tanggung jawab? Atau beda? Terus hubungannya
sama hati apa? (satu-satu dong nanyanya
#emang siapa yang nanya? #gubrak)
Menurut
buku yang pernah saya baca (sebenarnya dari internet sih) Amanat itu banyak
sekali maksudnya begitu juga dengan tanggung jawab. Tapi amanat yang saya
maksud disini adalah pesan;perintah, sedangkan tanggung jawab itu adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (Sumber
Artikata.com). Sedangkan menurut film yang
pernah saya tonton amanat itu merupakan suatu hal yang harus dipertanggung
jawabkan. Misalnya kamu dapat jam dan dengan jam itu kamu bisa berubah menjadi Superhero (kebanyakan nonton anime), terus
disuruh menghadapi monster-monster untuk menyelamatkan dunia padahal kamu gak bisa sama sekali bela diri.
Namun itu merupakan amanah, yang belum tentu orang lain dapatkan. Jadi kamu ya
harus bertanggung jawab atas amanah itu. Dalam artian kamu harus berani
menghadapi monster-monster demi perdamaian dunia (halaah). Tapi emang bener amanat itu harus dipertanggung jawabkan
kalo gak di dunia, ya di akhirat nanti. Mendadak
alim)
Terus
hubungannya sama hati apa?
Jadi
begini, amanat itu ada bermacam-macam mulai dari yang sepele misal dititipi
salam, sampe yang berat misal dikasih jabatan sebagai presiden (berat kan?!). Tapi di samping itu
semua, yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi amanat tersebut, biar
bisa dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Namun, gak semua amanat bisa kita
jalani dengan gampang-gampang aja. Bahkan ada juga amanat yang kita rasa gak
pantes atau gak sanggup kita pegang. Dan kalo itu sudah terjadi, bisa saja kan,
amanat yang diberikan kepada kita itu terbengkalai. Nah, kalau amanat gak
dijalani dengan bener sampai terbengkalai gitu, bisa-bisa ‘yang diberi amanat’
di-cap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab dan bisa juga kepercayaan
terhadapnya hilang. Padahal mungkin saja ia sudah mengerjakan amanat tersebut
dengan maksimal. Tentunya kita gak pengen kan hal tersebut terjadi kepada kita,
maupun orang lain di sekitar kita.
Disinilah
letak hati,kalau kita menjalani amanat tersebut (meskipun di awal tidak cocok
ataupun merasa tidak sanggup), apabila dijalani dengan hati yang ikhlas dan
senang, serta tidak ada unsur keterpaksaan dalam menjalani amanat/tanggung
jawab tersebut, Insya Allah kita akan selalu diberi kemudahan oleh-Nya. Karena
hati akan selalu menunjukkan kepada kebaikan. Orang jahat sekalipun (emang ada orang jahat?) hati kecilnya
pasti menyeru untuk berbuat baik.
Jadi
sekarang jangan takut lagi tidak bisa menjalankan amanat dengan baik. Kalo dari
saya sih kuncinya itu “lakukan dengan hati yang ikhlas dan senang” insya Allah
kita bisa kok menjalaninya. Apalagi kalau kita gak sendiri, pasti teman-teman
kita mau membantu kita kan?!. Tapi kalo emang terlalu berat atau masih ada yang
lebih pantes jangan takut nolak juga. Intinya jangan melakukan sesuatu dengan
terpaksa lah. Kalo bisa ikhlas, kenapa harus terpaksa? Iya gak?
Yaudah
deh sekian dari saya, maaf kalo terkesan sok pintar haha. Sampai ketemu lagi
semua J


Tidak ada komentar:
Posting Komentar