Being Your Ladder - Chp 5


 "Wah hasil yang luar biasa!" ucap pak Salim, dosen pembimbing skripsiku. 

"Baiklah. Selamat untuk kalian berdua. Kalian sudah boleh daftar sidang bulan ini. Yang terpenting jangan lupa belajar lagi untuk persiapan. Bapak doakan semoga lancar ya! " Lanjut beliau, sambil membubuhkan tanda tangan di lembar pengantar sidang.

"Alhamdulillah. Terimakasih banyak pak" Jawab kami serentak. Kami sangat bersyukur di detik-detik terakhir kami hampir putus asa, Allah mengirimkan pertolonganya melalui jalan yang tidak pernah kami sangka. 2 minggu yang lalu, seorang alumni yang kebetulan singgah ke kampus, tak sengaja mendengar obrolan kami ketika lewat di depan lab. Setelah mendengarkan cerita kami, akhirnya beliau memberitahu bahwa di laboratorium tempat ia kerja, ia punya sampel yang kami butuhkan. Beliau juga tak sungkan-sungkan memberitahu prosedur untuk mendapat sampel tersebut. Akhirnya kami sempat melakukan 5 kali pengulangan pervariabel, dan mendapat hasil yang sesuai harapan. 

Kami berdua menuju ruang departemen untuk mendaptar sidang. Setelah mengumpulkan beberapa berkas persyaratan, kamipun pulang. Besok jadwal sidang kami keluar. Kami harus bersiap. 

- to be continued... 

#challengecomeback15desember2020

Being Your Ladder - Chp 4

"Pagi pak! " Ucapku kepada pak Ridwan. Satpam fakultas itu menjawab sambil tersenyum. 

"Pagi juga le...". 

" Udah makan sarapan belum pak? Ini saya bawakan nasi bungkus " Tanyaku sambil menyerahkan bungkusan plastik berisi nasi dan teh hangat itu. Aku sengaja beli dua bungkus di warung dekat kosan tadi. Satu untukku, satu lagi untuk sedekah. Ayahku selalu bilang untuk senantiasa membiasakan sedekah walau hanya dengan segelas air putih. "Jumlahnya tak penting, yang penting niat kita " Kata ayah. Pagi ini rejekinya pak Ridwan, orang yang selalu menjaga keamanan dan ketertiban di fakultasku. Pak Ridwan juga sosok yang kukagumi. Di umurnya yang sudah tak muda lagi, ia masih tetap istiqomah untuk datang paling pagi demi membuka gerbang untuk para mahasiswa dan dosen. 

"Waduh. Kok malah repot-repot le... Bapak sudah ngopi kok barusan, emang belum makan nasi sih... Makasi banyak ya Lee... Semoga sehat selalu" Ucap Pak Ridwan. 

"Aamiin... Gak baik lo pak minum kopi sebelum sarapan entar malah sakit lambung lo... " Candaku. Beliau hanya tersenyum. 

"Saya masuk dulu ya pak" Ucapku sembari memasukkan sepeda motorku keparkiran. Sebelum naik ke lantai 3 ( laboratorium tempatku melakukan penelitian) kusempatkan singgah ke musholla untuk sholat dhuha.

***

"Hmm, variabel ini harus diulangi setidaknya 3 kali lagi, untuk mengetahui hasil yang lebih spesifik. Jika kita menggunakan 3 pereaksi berbeda maka kita butuh waktu 9 hari paling cepat untuk tahu hasilnya. Itupun jika tidak bermasalah" Jelas Reza, rekan skripsiku. 9 hari bukan masalah besar batinku. Namun ada hal yang masih mengganjal, 


"Baiklah aku sudah tahu gambarannya. Namun sepertinya masalah kita ada di sampel. Aku tak yakin kita punya cukup sampel untuk melakukan 9 kali pengulangan. Bagaimana menurutmu? " Tanyaku. 

"Iya juga sih. Kemarin setelah kucek sampel kita hanya bisa untuk 5 kali percobaan lagi. Kalau harus pesan lagi, kita harus nunggu 3 bulan nih baru sampelnya sampai". Kami berdua berpikir keras, berusaha untuk mencari solusi yang tepat untuk permasalahan kami. Kalau harus menunggu 3 bulan untuk sampel yang baru, kami tak akan sempat untuk mendaftar sidang tahun ini. Artinya masih harus nambah satu semester lagi. Dan tentunya itu sangat tidak mungkin bagi kami. Kalau harus mengurangi percobaan, belum tentu hasilnya bagus. Kalau ganti variabel, maka harus mengulang lagi dari awal. " Pusing!!! "

Di tengah kebingungan kami, Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam laboratorium dan ikut nimbrung dengan obrolan kami. Setelah mendengar permasalahan kami beliau berkata,...


-to be continued.... 


#challengecomeback14desember2020

Being Your Ladder - Chp 3

Cuaca malam itu sungguh bagus. Meski tak terlihat bintang yang berkelipan, para penumpang pesawat tampak tenang. Sebagian dari mereka asik bercakap-cakap dengan teman di sebelahnya. Sebagian lagi asik melahap makanan yang baru saja disajikan. Ada pula yang terlihat lelap dalam tidurnya. 



Di salah satu bangku penumpang, seorang gadis berkerudung merah tampak serius mencoret-coret notesnya. Sambil mendengarkan musik melalui earphone, ia tampak menikmati kegiatannya tersebut. Gadis tersebut bernama Aisyah Nur Azkiya. Ia adalah salah satu mahasiswi berprestasi yang akan melaksanakan program Student Exchange di kampus luar negeri. Aisyah berhasil melewati seleksi super ketat yang diadakan oleh kampus, mengalahkan ratusan pesaing bersama dengan 4 orang lainnya dengan program yang berbeda. Mereka berlima akan melaksanakan program tersebut selama 2 semester di negeri Sakura. 

"Selesai!" Ucap Aisyah lirih. Ia mematikan musik dan melepas earphonenya. Kemudian ia kembali memandangi hasil corat-coretnya di kertas. List target yang harus ia capai dan halal baru yang harus dipelajari tertera dengan rapi disana. Baginya, bisa berangkat ke luar negeri bukanlah hal yang harus ia banggakan, melainkan apa yang bisa dipelajari nya di negeri orang itulah yang harus ia kejar. Program pertukaran mahasiswa ini bukanlah ajang untuk main-main. Berapa banyak orang lain yang ingin berada di posisinya untuk mencari ilmu, namun harus merelakan tekadnya karena tak lolos seleksi. "Bukankah zalim jika aku hanya main-main? " Ucapnya dalam hati. " Aku tak boleh membiarkan waktuku menjadi sia-sia disana. Aku harus belajar dengan giat! " Lanjutnya. 

Aisyah melirik jam tangannya, sudah pukul 20.19. Cacing di perut sudah meronta-ronta minta diisi. Ia teringat belum makan sejak naik pesawat. Aisyah segera merapikan buku catatan dan alat tulisnya dan mengeluarkan kotak makanan. Setelah membaca do'a, gadis itu makan dengan perlahan. 

- to be continued... 

#challengecomeback13desember2020

Being your Ladder - chp 2

 Langit sore tampak cerah. Semburat warna jingga hiasi angkasa, pertanda mentari akan segera kembali ke peraduannya. Dalam hati aku bersyukur, cuaca cerah tidak akan mengganggu perjalanan langit. Semoga selamat sampai tujuan, gumamku. 


Akhirnya aku tiba di kosan. Kuhempaskan tasku di atas meja dan kubaringkan tubuhku di atas kasur yg mulai menipis. Lelah. Ketika mata hendak terpejam, kulirik jam dinding menunjukkan pukul 16.55. Celaka! Aku teringat belum sholat ashar. Segera kuambil handuk dan menuju kamar mandi. Kran kuhidupkan dan kurasakan segarnya air yang mengalir. Segera aku mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat. Selepas sholat, kuistiratkan tubuh sejenak sambil berzikir. Tak lama kemudian aku tertidur. 


***


"Allahu Akbar... Allahu Akbar.... "

Suara azan membangunkanku dari tidur. Aku segera bangun dan bersiap untuk sholat berjamaah. Selepas mengaji, kubuka laptopku. Aku teringat bahwa ada revisi yang belum kukerjakan. Kulihat kalender di dinding, angka yang kulingkari semakin mendekat. Ya, aku harus mengejar sidang bulan depan. Kalau tidak, terpaksa harus menambah satu semester lagi, dan tentunya itu tak boleh kulakukan. Teringat bahwa jatah beasiswaku tinggal semester ini saja, dan jika terpaksa harus lanjutpun aku tak yakin punya biaya. Beruntung aku punya partner penelitian yang baik. Dia selalu membantu dan mengajariku ketika ada hal yang tak kupahami. Aku benar-benar bersyukur masih diberi kesempatan bisa berkuliah dengan beasiswa dan bertemu dengan orang-orang yang hebat, serta masih punya orang tua yang selalu mendukung dan menyemangatiku. Demi mereka, aku harus lulus tahun ini! Tekadku dalam hati. 


Kubuka lembaran skripsiku. Masih ada beberapa variabel yang harus diuji ulang, dan aku masih kekurangan referensi. Kubuka link jurnal yang dikirim kawanku, setelahn mengetik beberapa kata dan mengklik tombol pencarian, berbagai jenis jurnal yang berhubungan dengan penelitianku muncul. Aku harus memfilternya. Semangat-semangat! Ucapku dalam hati. Tak terasa azan isya pun berkumandang. Kusimpan file-file yang kubutuhkan dan aku bergegas menuju masjid. Panggilan Allah lebih penting dari apapun. 


- to be continued...

#challengecomeback30november2020

Being your Ladder - chp 1

"Jika kau ingin meraih langit, maka kau harus berani untuk terbang. Kalau kau tetap tak berani, aku siap jadi tanggamu" 

***


Kupercepat laju motorku. Masih ada 2 tikungan lagi untuk tiba di tujuan, ditambah dengan waktu parkir, fix! Aku terlambat. 

"Pesawat dengan kode penerbangan Ai 202 akan segera berangkat. Penumpang yang masih berada di luar, harap segera menaiki pesawat" suara pengumuman terdengar dari speaker yang berada di ruang parkir. Setelah mengunci motorku, ku berlari ke ruang tunggu keberangkatan. Sialnya aku lupa, tanpa tiket aku tak bisa masuk. Beberapa petugas terlihat di pintu masuk. Aku berusaha menjelaskan bahwa urusan ini sangat penting, namun sia-sia saja. Mereka bahkan tak mengijinkanku bergerak barang selangkahpun melewati pintu masuk. Aku berencana untuk menerobos, namun sepertinya mereka tahu maksudku sehingga mereka tak melepas pandangannya dariku. Aku putus asa. Merutuk kenapa bisa-bisanya aku tak memprediksi kemacetan di jalan tadi. Jika saja aku berangkat lebih cepat, tentu aku masih punya kesempatan. Bunyi dari pengeras suara membuyarkan lamunanku. 
"Pesawat dengan kode penerbangan Ai 202 akan segera berangkat. Penumpang yang masih berada di luar harap segera menaiki pesawat"
"Gawat! " Aku benar-benar harus masuk. Ketika pandangan para petugas beralih, aku mengambil ancang-ancang untuk menerobos. Tiba-tiba... 
"Ting! "
Ponselku berbunyi. Ternyata ada pesan : 

" Aku sudah naik pesawat ya. Ni udah mau berangkat. Doakan ya semoga selamat sampai tujuan dan dimudahkan segala urusan. Jaga dirimu baik-baik sampai aku pulang :) 


Ps : tenang, tadi aku sempat liat kamu kok, lari-lari sampai mau berkelahi sama petugas. Hehe. Terimakasih ya udah nepatin janji

See U "

Segera kupencet tombol panggil. "Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Silahkan tinggalkan pesan anda setelah nada berikut.... Tut... Tut... Tut... "

"Baik-baik di negeri orang. Semoga Allah selalu menjagamu"

- to be continued... 


#challengecomeback28november2020