Dataran
Tinggi Gayo Aceh Tengah, dikenal banyak menyimpan keindahan panorama terutama
disekitar Danau Laut Tawar. Dari sekian banyak objek wisata, hanya beberapa
saja yang sudah dikenal dan sering dikunjungi. Salah satu yang belum terpublikasi
adalah kawasan Atu Tingok, bertempat di Kampung Dedalu Kecamatan Lut Tawar atau
sejajar dengan sisi selatan Danau Lut Tawar dan daratan Kota Takengon.
Disebut
Atu Tingok karena keberadaan beberapa bongkah batu besar yang teronggok di
kawasan Bur Telege (sekarang banyak disebut Bur Gayo dan sempat disebut Bur
Peteri Bensu).
Atu
Tingok tersebut berada dibagian gunung yang sangat miring dan terjal dengan
ukuran sekitar 4 x 3 meter agak menonjol keluar seperti tersangkut saja
sehingga bagi pengunjung yang ingin berdiri diatasnya akan merasa was-was,
khawatir akan menjadi beban bagi batu tersebut dan terguling ke bawah.
Dari
Atu Tingok akan tampak hamparan luas kota Takengon. Bagian kota dari Tan Saril,
Bies, Belang Gele di sisi barat lalu sepanjang kawasan tanggul Boom – Mendale
Kebayakan persis sejajar dan hamparan Danau kebanggaan rakyat negeri Antara di
sisi timur.
Angin
sepoi-sepoi menerpa daun-daun pinus menyuguhkan musik alam ditingkahi suara
burung-burung kecil serta lengkingan suara burung elang. Saat berkunjung
kesana, malah ada seekor elang berwarna keputihan yang lazim disebut warga Gayo
sebagai Kalang Siki meliuk-liuk diudara.
Menuju
Atu Tingok sebenarnya sangat tidak sulit, dibandingkan dengan tempat ketinggian
lainnya di Aceh Tengah seperti ke Pantan Terong di Kecamatan Bebesen, sisi
barat Kota Takengon. Disamping dekat dimata hanya sekitar 2 kilometer dari
pusat kota Takengon juga akses jalan yang lebih dari dua pertiganya bisa
diakses dengan segala jenis kenderaan tanpa harus mengandalkan kekuatan mesin
secara maksimal.
Dengan
kenderaan roda empat, pengunjung dapat dengan aman memarkirnya di jalan
terpuncak tanjakan persisnya di sekitar Telege (Gayo : sumur) Bur Gayo.
Keberadaan sumur di puncak gunung membuat nama pegunungan ini disebut Bur Telege.
Nama ini kemudian berubah menjadi Bur Gayo karena beberapa tahun lalu ada
penanaman pohon Pinus yang sengaja membentuk tulisan “Gayo” yang dulu nampak
jelas terbaca dari kota Takengon tentu saat pohon-pohon tersebut masih kecil.
Mengasyikkan
perjalanan menuju Bur Telege, seluruh sisi kota Takengon dan saat tiba di
punggung Bur Telege akan dapat dinikmati panorama perkampungan Pedemun dan
teluk One-one yang dipenuhi dengan keramba jaring apung milik warga yang
diperindah dengan baground Bur Birah Panyang, sebuah gunung yang paling khas
dan indah yang memagari danau Lut Tawar dengan hamparan sawah dikakinya.
Untuk
mencapai Atu Tingok, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar setengah
kilometer. Bisa dipilih menapaki tangga beton atau di jalan tanah. Pengunjung
dapat beristirahat disebuah shelter yang dibangun Pemerintah Kabupaten Aceh
Tengah beberapa tahun silam. Disekitar shelter, biasanya berkeliaran kuda-kuda,
kerbau dan sapi milik sekitarnya yang dilepaskan bebas berkeliaran. Keberadaan
hewan-hewan peliharaan diketinggian gunung tentu menjadi daya tarik sendiri
bagi pengunjung.
Perjalanan
menjadi agak sulit di 50 meter terakhir, belum ada akses jalan setapak sehingga
cenderung agak bersemak. Akan tetapi ketidakramahan suasana perjalanan yang
hanya puluhan meter tersebut dipastikan akan hilang saat anda berada di Atu
Tingok. Berjuta rasa keindahan akan segera membuai dan membuat kita terbius
untuk betah berlama-lama. Kesal, jika anda tidak membawa kamera.
Satu
lagi, jika beruntung, maka akan mendapati sebuah bangunan monumen atau tugu di
sekitar Atu Tingok. Sebuah monumen yang menurut Irsyad, tokoh masyarakat
Kecamatan Lut Tawar dibangun dimasa awal-awal kemerdekaan Republik Indonesia
tahun 1945 dengan ukuran tinggi sekitar 2 meter dan lebar 1 meter. Ada yang
menyebut monumen ini sebagai Tugu 45 Bur Gayo.
Monumen
ini dibangun oleh Gubernur Aceh saat itu H Ali Hasymi dan menamai kawasan Atu
Tingok dengan Bur Peteri Bensu.
Sayangnya,
lokasi persis dari monumen ini tidak diketahui karena ditutupi semak belukar
walau sudah beberapa kali dicari bersama orang yang sudah pernah
mengunjunginya. Kiranya, cukup banyak alasan agar pihak terkait dapat membuka
akses dan merawat monumen tersebut yang merupakan salah satu saksi sejarah kota
Takengon.
Bagi
peminat hiking, perjalanan dari Atu Tingok bisa dilanjutkan menuju Ujung Baro,
lokasi hotel Renggali Takengon dengan menyusuri punggung bukit. Butuh sarung
tangan dan baju lengan panjang jika tidak ingin terluka akibat semak berduri
karena belum ada jalan resmi disana. Sangat dianjurkan untuk membawa golok
untuk membuka jalur serta lotion untuk perlindungan dari serangan Pacat yang
menunggu segarnya darah anda.
Jalur
lainnya menuju teluk One-one tanpa harus melewati jalan semula. Dengan jalan
tanah sekitar 2 kilometer akan langsung menikmati kopi Gayo, gorengan hangat
serta ikan bakar di cafe-cafe dipinggiran danau. Untuk jalur ini, semenatara
hanya bisa dilalui dengan kenderaan roda dua, sepeda atau berjalan kaki.
Jika
ingin melihat-lihat suasana danau, perjalanan bisa dilanjutkan menuju timur dan
keliling danau dengan jarak tempuh sekitar 46 kilometer. Dan jika ingin kembali
ke kota Takengon, tinggal belok kiri saja. Tak sampai 2 kilometer akan tiba
kembali di pusat kota berhawa dingin tersebut.
Perjalanan
lintas Bur Gayo alias Atu Tingok atau Burni Peteri Bensu sering dijadikan
sebagai lokasi hiking warga Takengon dan track favorit para pecinta sepeda
gunung baik tipe Xcross Country (XC) maupun Down Hill (DH) juga pehobi
fotografi mengabadikan rangkaian panorama tersebut.



wuwuwu, semoga suatu saat bisa kesana :) Aamiin.
BalasHapusAamiin...
BalasHapusKapanpun kamu ke Aceh, aku siap jadi pemandu wisata
hehe
biar kamu tau indahnya alam Indonesia di sudut barat sana :)