Menulis.. hmm.. siapa yang tidak
tahu arti menulis? Kebanyakan dari kita mungkin sudah mengetahuinya. Yaa,
menulis ialah salah satu cara mengekspresikan isi pikiran kita ke dalam bentuk
tulisan. Sebenarnya ada 3 hal yang sangat berkaitan dalam hal tulis-menulis
ini. apa saja itu?? Kita akan bahas satu persatu.
1. Berfikir
(Thinking)
Berfikir merupakan salah satu hal
yang sangat berkaitan dengan menulis. Mengapa demikian? Karena dari berpikirlah
kita dapat menulis sesuatu. Kebanyakan dari orang-orang hebat yang terkenal di
seluruh dunia, memiliki pola pikir yang sangat hebat. Sehingga apabila
diaplikasikan ke dalam bentuk tulisan yang akan dibaca banyak orang tentunya
pemikiran tersebut sangat bermanfaat. Tentunya, pemikiran yang baik-baik loh ya
J.
2.
Berbicara (Speaking)
Yang kedua yang sangat berhubungan
dengan dunia tulis menulis adalah berbicara. Berbicara merupakan cara yang
paling terlihat dalam mengekspresikan tulisan-tulisan kita. Karena apabila
seseorang itu menulis, tentunya ia lebih bisa berbicara tentang isi dari
tulisannya tersebut. meskipun banyak dari orang-orang yang menulis, sulit untuk
mengungkapkan tulisannya karena rasa percaya diri yang kurang mungkin. Begitu
juga sebaliknya, banyak juga dari pembicara-pembicara, orator-orator hebat,
sulit untuk menuliskan apa yang ia bicarakan, hal ini mungkin disebabkan oleh
pemilihan kata dan tata bahasa yang sulit.
3.
Menulis (Writing)
Yaa, yang tak kalah pentingnya juga,
menulis itu sendiri. Karena apabila kita sudah memiliki pemikiran yang baik,
yang kemudian diaplikasikan dengan cara berpidato, maupun berbicara di
tempat-tempat umum, kemudian yang terakhir kita tinggal menuangkan nya dalam
bentuk tulisan. Mudah bukan?? Apa yang kita pikirkan, apa yang kita bicarakan,
tinggal kita tuliskan.
Tiga hal diatas tentunya sangat
berkaitan apabila seseorang ingin menjadi seorang pemikir, pembicara, maupun
penulis yang hebat. Tinggal mengaitkan hal yang satu dengan hal lainnya.
Diawali dengan pidato dalam diam atau pidato untuk diri sendiri (berpikir),
kemudian pidato ke orang banyak, dengan menyampaikan hal yang telah dipikirkan
sebelumnya, dan terakhir, berpidato di atas kertas, agar semua orang bisa
membacanya.
Selaku santri salafiyah yang
biasanya identik dengan kaum sarungan dan berkopiah, dengan referensi bacaan
kitab-kitab kuning yang sudah dikuasai luar kepala. WOW! Hebat bukan?!. Tidak
menutup kemungkinan untuk menulis, bahkan mungkin banyak pemikiran-pemikiran
yang muncul dari hasil belajar dari kitab-kitab tersebut, dan bisa dituangkan
ke dalam bentuk tulisan yang bisa diterima masyarakat luas. Lebih-lebih lagi
yang dipelajari itu adalah ilmu agama, tentu akan sangat berguna dan akan
menjadi ilmu yang bermanfaat yang akan membantu ketika sudah tidak bisa melakukan
amal-amal lainnya lagi (meninggal, red).
Begitu juga dengan santri-santri
yang berada di pondok-pondok modern, dengan modal buku-buku bacaan yang tidak
hanya ilmu agama saja, bahkan ilmu-ilmu Sains, Teknologi, Informasi,
kedokteran, kesehatan dan lain sebaginya. Juga didukung oleh kegiatan-kegiatan
seperti Muhadhoroh, lomba-lomba pidato, maka santri-santri sudah lihai
dalam masalah berbicara di depan public. Dan sungguh sangat bagus sekali juga,
apabila para pembicara-pembicara dari kalangan santri tersebut bisa menuliskan
apa-apa yang ia bicarakan di hadapan podium tersebut.
Kebanyakan dari orang-orang
khususnya para santri, mengalami kesulitan untuk memulai menulis. Banyak
kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan hal tersebut. Misalnya, tidak mengetahui
apa yang akan ditulis, sulit dalam hal pemilihan kata yang tepat, juga tidak
ada motivasi dalam menulis. Sebenarnya cukup mudah untuk mengatasi itu semua,
yang penting kuncinya adalah kemauan. Seperti sebuah pepatah “dimana ada
kemauan, disitu ada jalan”. Apabila seseorang sudah memiliki kemauan yang kuat
akan sesuatu hal, pasti ia akan berusaha untuk mewujudkan hal yang dia inginkan
tersebut. Untuk masalah yang tidak tahu apa yang akan ditulis, sebenarnya
simple sih. Banyak hal yang bisa ditulis di dunia ini. misalnya kita melihat
sesuatu hal ataupun kejadian, bisa kita jadikan tulisan. Kemudian apabila kita
mendengar ceramah-ceramah kita bisa mengambil intisarinya dan menulisnya.
Bahkan, yang lebih mudah kita menuliskan hal-ha; yang kita alami sendiri. Mudah
bukan?! Tinggal menulis, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang
kita rasakan, apa yang kita dapat dan apa yang kita alami. Kemudian tinggal
banyak membaca dan belajar lagi untuk pemilihan kata yang bagus dan menarik
untuk dibaca.
Dan yang terpenting juga ialah
menulis berdasarkan fakta. Karena apabila kita menbulis hal yang tidak sesuai
dengan kebenarannya, sama saja kita dengan membohongi publik. Dan yang lebih
bahaya lagi apabila tulisan tersebut dibaca oleh banyak orang dan orang
terpengaruh ataupun percaya dengan kebohongan dalam tulisan tersebut, pastinya
kita, sang penulis akan mendapat dosa yang besar karena telah membohongi banyak
orang. Maka dari itu, kita selaku santri diharapkan untuk menulis hal-hal yang
sesuai dengan faktanya.
Nah.. sekarang sudah tau kan?
Menulis itu gimana. Ayo mulai sekarang kita menulis, ga ada kata terlambat kok.
Terserah teman-teman mau menulis apa. Mau puisi, cerpen, opini, essai, berita
bahkan novel mungkin. Mulai dari yang dasar dulu terus meningkat dan terus
meningkat sampai akhirnya kamu jadi penulis hebat.
Ayo
menulis J


Tidak ada komentar:
Posting Komentar