Refleksi Satu Dekade Tsunami Aceh

Hari ini satu dekade lalu, seluruh dunia dikejutkan dengan bencana besar pada saat itu. ya, hari ini adalah tepat sepuluh tahun tsunami Aceh terjadi. banyak yang telah menjadi kenangan. namun dari sanalah kita bisa memetik pelajaran. Tentang hidup, tentang alam, tentang sekitar kita dan tentang Sang Pengatur alam.

Minggu, 26 desember 2004.
Orang-orang menjalankan hari-hari seperti biasa, para pedagang berjualan di pasae, petani berangkat mengurusi kebun dan anak-anak bermain di lapangan. Pukul 07.30 WIB, terjadi peristiwa yang tidak biasa. Air di pesisir pantai surut sangat jauh ke tengah, meninggalkan ikan-ikan yang berada di pinggiran melompat-lompat berusaha mencari sumber kehidupan. Melihat banyak ikan yang menggelepar di pinggiran pantai, menarik minat sebagian warga dan anak-anak untuk memungutinya tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Namun, saat itulah musibah itu datang. Tak lama setelah fenomena surutnya air laut yang menjorok menjauhi pantai, air kembali dengan volume yang lebih besar membentuk gelombang raksasa yang siap membawa apa saja yang berada di hadapannya. Saat itulah baru masyarakat panik. Melihat gelombang yang begitu besarnya, semua berusaha melarikan diri melupakan segala harta benda, rumah dan seisinya. Namun, tak banyak yang bisa dilakukan. dalam waktu singkat, air sudah mencapai perumahan warga dengan tinggi melebihi 3 pohon kelapa. Menyapu bersih seluruh perkebunan, sawah, ternak dan pemukiman warga yang dilewatinya. Orang-orangpun hanyut terbawa arus yang begitu besar. Tsunami.

Gempa berkekuatan 9,2 skala richter yang berpusat di dasar Samudera Hindia menjadi pemicunya. Bagian barat Aceh yang terletak hanya 160 kilometer dari pusat gempa tersebut mengalami goncangan hebat dan gelombang tsunami. Gempa tersebut merupakan gempa terdahsyat dalam 40 tahun terakhir. Dalam waktu sekejap, seluruh kota Banda Aceh dan Meulaboh sudah ditutupi oleh gelombang raksasa tersebut. Tak terhitung berapa korban yang meninggal dalam peristiwa tersebut. Hingga hanya sedikit yang bisa bertahan selamat dari musibah tersebut. Seluruh penjuru Aceh juga mengalami gempa yang hebat. Kami yang berada di jarak yang cukup jauh dari pusat tsunami juga merasakan gempa yang dahsyat. Umurku baru sepuluh tahun saat itu dan masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, sehingga belum terlalu mengerti betapa dahsyatnya musibah yang sedang terjadi saat itu. Aku hanya merasakan bumi bergoncang begitu kerasnya, hingga merobohkan sebagian bangunan dari rumah warga. Seluruh warga berkumpul di tengah jalan, menjauhi rumah dan tiang listrik agar tidak tertimpa apabila rumah ambruk dan tiang listrik tumbang. 

Semua terjadi begitu cepat. Namun, kesedihan dan perasaan akan kehilangan sungguh lama membekas dan sulit untuk dilupakan. Tak hanya bagi mereka yang kehilangan keluarga dan sanak saudara saja, namun seluruh dunia seolah-olah ikut merasakan kepedihan yang diderita. Bantuan-bantuan datang dari seluruh Indonesia bahkan dari beberapa penjuru dunia juga ikut membantu. Isak tangis anak kecil yang kehilangan segalanya terdengar dimana-mana. Jenazah yang bahkan tidak bisa diidentifikasi identitasnya bertumpukan dengan jenazah lain di seluruh kota. Bahkan kapal dengan berat berton-tonpun ikut terangkat ke tengah kota. Tak terhitung berapa banyak jiwa yang terpukul karena kehilangan seluruh sanak saudara. Tak terhitung berapa tetes air mata yang jatuh dari setiap jiwa yang tersisa. Sejenak senyuman menghilang dari bumi serambi Mekkah ini.

Satu dasawarsa telah berlalu sejak peristiwa itu terjadi. Namun, perasaan akan kehilangan tetap membekas di setiap mereka yang merasakannya. Namun semua sudah mengikhlaskan semua menjadi kenangan yang tak akan pernah bisa dilupakan hingga akhir hayat. Kini Aceh memiliki wajah baru, wajah yang tersenyum lebih indah dari sebelumnya. Pembangunan di tempat yang mengalami musibah terus dilakukan. Hingga kini, Aceh tersenyum kembali. 

Banyak yang bisa kita ambil hikmahnya dari seluruh kejadian di sekitar kita. Tak hanya tsunami Aceh, letusan gunung Kelud di Jawa Timur, Banjir di Jawa Barat dan sekarang gunung Gamalama yang belum lama ini juga meletus. Semua memiliki arti tersendiri di baliknya. Kita selaku manusia hanya bisa memetik pelajaran dan berdo'a agar segala ujian ini terus berlalu. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari setiap kejadian. Salah satunya pelajaran bahwa hidup hanya sementara, semuanya hanyalah titipan yang mana akan diambil oleh Sang Pemilik di waktu yang tidak pernah kita duga. Juga pelajaran bahwa seluruh pergerakan di muka bumi ini diatur oleh Dzat Yang Maha Pengatur. Ujian juga diturunkan untuk mengingatkan kita, yang terlalu sibuk akan dunia hingga melupakan-Nya. Mengingatkan kita yang terlalu lalai akan hakikat kita berada di dunia ini.

Banyak cara Tuhan mengingatkan hamba-Nya, melalui ujian adalah salah satunya. Akankah kita baru bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah mendapat beberapa teguran dari-Nya? Atau kita mengambil pelajaran dari ujian yang telah terjadi? Kembali kepada hati nurani masing-masing. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mengambil hikmah dari setiap ujian-Nya. Aamiin.

Beberapa gambar dokumentasi yang diambil tepat setelah tsunami terjadi dan sekarang.










Sumber gambar : http://versesofuniverse.blogspot.com/2014/12/aceh-10-tahun-setelah-tsunami-26.html

Mata Najwa: Dari Aceh untuk Indonesia


Malam semua. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya. Baru saja saya menyaksikan sebuah program tv di salah satu stasiun tv di Indonesia, yaitu Mata Najwa. Beberapa minggu kemarin, mata najwa and crew mengunjungi kampung halamanku, meskipun hanya di ibukota provinsi aja sih. Acara mata najwa kali ini bertemakan dari Aceh untuk Indonesia, yang diadakan di universitas negeri Syiah Kuala, Banda Aceh. Acara yang bagus dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari program tersebut.  Berikut beberapa ilmu yang kutangkap dari acara tadi.

Pertama dari Pak Dahlan Iskan selaku menteri BUMN. Bahwa sebenarnya dalam hidup, kita membutuhkan rasa sakit hati. Mengapa? Ya, mungkin dari rasa sakit hati itulah kita bisa berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pengalaman beliau ketika pertama kali mengurusi jawa pos, beliau menyatakan bahwa pada saat itu jawa pos masih kecil dan tidak terkenal. Bahkan pada saat itu ketika orang bertanya dimana kantor jawa pos? Banyak yang menjawab "o, itu kantor yang di depan rumah pak Karman". Pada saat itu pak Karman yang notabene masyarakat biasa, lebih dikenal daripada jawa pos.  Pak Dahlan bilang nanti jawa pos akan lebih terkenal di masyarakat, biar nanti orang balik nanya "dimana ya, rumah pak Karman?" "o, yang di depan jawa pos". Simpel mungkin, namun tentunya rasa sakit hati yang mendorong ke arah positif yang diperlukan. Kedua dari beliau, bahwa motivasi itu berbeda-beda tergantung situasi nya. Motivasi sewaktu kecil beda dengan ketika mulai membuka usaha. Ketika usahanya lebih besar lagi, motivasinya beda lagi. Dan biasanya motivasi itu datang dari tempat yang tidak diduga-duga, kebanyakan ketika kita dalam kondisi kepepet atau terpojok. Nah, kita emang butuh motivasi kapan saja, dan motivasi bisa berasal dari diri kita sendiri dan orang lain. Tentunya motivasi dibutuhkan agar kita lebih semangat dalam melakukan sesuatu.

Kedua dari bu Susi, sang menteri kelautan dan perikanan yang pernah menjadi perbincangan hangat di sosial media. Mungkin salah satu alasannya adalah karena pendidikan beliau yang bahkan tidak lulus Sma. Namun bagiku itu semua tidak masalah, selama kinerjanya bagus dan tidak menimbulkan masalah. Bukankah banyak juga di luar sana orang-orang yang sukses meskipun tidak sempat mengecap bangku sekolah. Pun demikian,  beliau menekankan bahwa pendidikan emang hal yang harus diutamakan. Apabila kau tidak sekolah, kau harus bekerja tiga kali lebih keras daripada orang yang bersekolah, begitulah tutur beliau. Namun, pelajaran tak hanya bisa dinikmati di bangku sekolah saja. Banyak pelajaran berharga yang bisa kita kutip dari kehidupan. Pesannya juga buat para sarjana agar bisa lebih baik dan bersama-sama membangun negri. Masak kalian yang sarjana kalah dari yang tidak lulus Sma, ungkap beliau. Pelajaran emang bisa didapat bahkan harus dipelajari dimana saja berada, namun apabila masih diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di sekolah maupun di bangku kuliah, ya disyukuri dan diniatkan untuk bisa lebih baik lagi.

Terakhir dari bang Tompi, penyanyi yang ternyata asli Lhokseumawe. Dia bercerita tentang pengalamannya ketika sekolah di Sma Modal Bangsa (Mosa), sma favorit yang selalu banyak peminat di tiap tahunnya pada saat ini. Dia bersama teman-teman yang berjumlah sepuluh orang selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Bahkan merelakan jam tidur mereka, mereka hanya tidur empat jam tiap harinya.  Dan ketika lulus dengan nilai terbaik, beliau merasa hebat. Bahkan ketika try out di provinsi pun selalu berada di posisi lima besar. Dengan modal itulah dia berniat untuk menaklukkan jawa. Alasannya juga karena sistem pendidikan di Aceh pada saat itu masih kalah jauh dari pulau Jawa. Akhirnya dia lulus umptn jurusan pendidikan dokter di universitas indonesia, namun hampir tidak berangkat karena tidak memiliki biaya. Namun, ibunya bersikeras agar bang Tompi berangkat. Sesampainya di jawa, baru terasa bahwa pendidikan di tempat kami jauuh sekali tertinggal daripada di sini. Mungkin itu juga yang aku rasakan, mungkin juga perasaan ini juga dirasakan oleh semua perantau dari daerah kami. Kami seperti katak dalam tempurung yang berusaha keluar untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Akhirnya beliau berhasil lulus dengan nilai terbaik di bidang bedah plastik se-Indonesia dan sekarang dia sukses di dunia musiknya. Semoga kami semua para pemuda pemudi Aceh / Gayo bisa sukses juga dan bisa memajukan pendidikan di daerah kami.

Sebenarnya masih ada satu bintang tamu lagi yang diundang yaitu pak Faisal Basri . Namun karena saya tidak mengikuti sejak awal jadi mungkin akan saya tambahkan di lain kesempatan.

Sungguh menginspirasi. Semoga acara ini terus berlanjut agar banyak yang bisa mengambil pelajaran darinya.
Salam :)


Suntikan Akhir Tahun

Desember hampir berakhir, sudahkah semua target tahun ini tercapai?
Beberapa hari kemarin baru dapat kunjungan oleh ayah, kebetulan beliau lagi ada tugas mengantarkan kelompok kerjanya untuk mengikuti kegiatan pelatihan tentang peternakan di Songgoriti, Batu, Malang. Alhamdulillah beliau menyempatkan diri untuk singgah mengunjungi anaknya di Surabaya ini.

Seperti kebiasaan di pesantren dulu, kalo sudah dikunjungi pasti dapat semangat baru, dapat suntikan motivasi yang membuat diri untuk belajar lebih baik lagi, agar menjadi orang yang berguna bagi semuanya. Menerima kabar baru tentang keluarga dan tempat tinggal secara langsung, sedikit berbeda rasanya dengan menerima kabar melalui telpon. Alhamdulillah semua baik-baik saja dan banyak kabar baik lainnya yang disampaikan. Seperti Ifa (adik pertama) yang semakin semangat belajarnya, bahkan sudah bisa menabung sendiri untuk beli tablet baru, Alhamdulillah. Juga si bungsu Nisa yang sudah beranjak naik kelas 5 dan sudah diwisuda di TPA. Hmm, jadi merindukan mereka berdua. Juga ibu yang lagi sibuk ngurusin rapor anak-anak muridnya di sekolah, semoga Allah selalu memberi kemudahan Aamiin.

Sedikit motivasi juga dari ayah tentang menulis, jadi bingung juga ketika ditanya blognya kok gak pernah diisi lagi? Padahal ibu selalu baca kalo ada tulisan baru disana. Ayah juga cerita kalo beberapa tulisannya tentang pertanian sudah dimuat di beberapa surat kabar di kabupaten lain, bahkan sudah diminta untuk menjadi penulis tetap yang tiap beberapa bulan sekali diminta menulis lagi sesuai dengan temanya. Hmm, aku jadi malu. Bahkan di tengah kesibukannya bekerja, beliau masih sempat menulis.

Akhirnya, seolah mendapat pukulan keras seperti waktu kecil kalau lagi malas ngaji, namun dengan kondisi yang berbeda. Bayanganku di cermin seolah-olah menantang, ayo mana tulisannya? Blognya kok gak pernah diisi? Gak sempat? Alaah itu alasan klasik boy. Tak perlu mencari waktu luang untuk menulis, namun sediakan waktumu untuk itu. Tak peduli orang menganggap tulisan itu curhatlah, inilah, itulah dan lain sebagainya. Menulis bukan semata - mata agar dibilang bagus oleh orang lain, menulislah! Untuk berbagi pengalaman, cerita, informasi dan lain lain. Meskipun tulisanmu kamu anggap jelek, atau sebagian orang menganggapnya demikian, percayalah entah di belahan bumi bagian mana, pasti ada seseorang yang tersenyum membaca tulisanmu.

Teruslah menulis agar dunia mengenal dirimu. Salam.

Salam rindu buat Ibu


Ingatkah kau hai anak muda? Hari apa hari ini? Jika kau terlalu sibuk dengan duniamu, sempatkanlah hari ini untuk mencium tangan ibumu sebelum berangkat kuliah. Ucapkan salam padanya, katakan bahwa kau menyayanginya lebih dari apapun di dunia. Buat kau yang jarang di rumah karena faktor pekerjaan, sempatkanlah untuk pulang meski sekedar untuk membuatkan teh manis dan menemani beliau ngobrol sejenak. Dan jika kau berada ribuan kilometer dari rumah dan tak memungkinkan untuk pulang, sediakanlah sedikit waktu untuk menelpon beliau. Sekedar untuk menanyakan kabar dan obrolan ringan antara ibu dan anak.

Ibu, wanita terhebat dalam hidup. Mereka yang rela berkorban demi anak-anaknya. Mereka yang mempertaruhkan nyawanya untuk membawa kita ke dunia. Mereka yang bersusah payah membawa kita kemanapun selama 9 bulan kita di kandungan. Merekalah wanita terhebat.

Ibu, wanita terbaik yang pernah ada. Bahkan setelah proses antara hidup dan mati ketika melahirkan kita, beliau tetap tersenyum melihat kita yang menangis ketika tiba di dunia seraya berdo'a , semoga kelak kita akan menjadi anak yang berguna dan sukses dunia dan akhirat. Membimbing dan mendidik kita untuk menjadi pribadi yang baik. Mengorbankan malamnya untuk sekedar menenangkan kita yang menangis. Merelakan dirinya lapar melihat kita ingin makan makanannya. Karena bagi mereka kita adalah anugerah terindah yang dititipkan Allah pada mereka. Merekalah yang terbaik.

Banyak hadits Rasulullah yang memuliakan seorang ibu. Bahkan tidak tanggung - tanggung, surga yang notabene merupakan tempat terindah yang dijanjikan Allah kepada mereka yang pantas mendapatkannya, berada di bawah telapak kaki seorang ibu. Betapa Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk selalu memuliakan ibu kita.

Ibu, berapa banyakpun kami berusaha, itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan perjuangan dan pengorbanan engkau. Namun, izinkan dan do'akan kami agar senantiasa menjadi anak yang berbakti.
Ibu, seberapa besarpun kami berbuat salah, engkau selalu memiliki pintu maaf yang lebih besar lagi.
Ibu, mungkin sekarang kami hanya bisa mendo'akan engkau usai sholat kami. Namun yakinlah, kami akan menjadi anak yang sukses dan membanggakanmu. Bahkan mungkin ketika kami telah berkeluargapun, rasa ingin membahagiakanmu tak akan pernah hilang, masih sama seperti sekarang.

Ibu, terimakasih untuk segala kebahagiaan yang telah kau beri. Semoga senantiasa bisa menjadi motivasi dan semangat kami dalam menjalani hari. Terimakasih yang tak terhingga untuk cinta kasih yang selalu kau sampaikan. Semoga selalu bisa menjadikan kami orang yang merasa hidup dan selalu menyayangi sesama. Terimakasih tak terbatas untuk semuanya.

Terimakasih Ibu. Selamat Hari Ibu :)