Mata Najwa: Dari Aceh untuk Indonesia


Malam semua. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya. Baru saja saya menyaksikan sebuah program tv di salah satu stasiun tv di Indonesia, yaitu Mata Najwa. Beberapa minggu kemarin, mata najwa and crew mengunjungi kampung halamanku, meskipun hanya di ibukota provinsi aja sih. Acara mata najwa kali ini bertemakan dari Aceh untuk Indonesia, yang diadakan di universitas negeri Syiah Kuala, Banda Aceh. Acara yang bagus dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari program tersebut.  Berikut beberapa ilmu yang kutangkap dari acara tadi.

Pertama dari Pak Dahlan Iskan selaku menteri BUMN. Bahwa sebenarnya dalam hidup, kita membutuhkan rasa sakit hati. Mengapa? Ya, mungkin dari rasa sakit hati itulah kita bisa berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pengalaman beliau ketika pertama kali mengurusi jawa pos, beliau menyatakan bahwa pada saat itu jawa pos masih kecil dan tidak terkenal. Bahkan pada saat itu ketika orang bertanya dimana kantor jawa pos? Banyak yang menjawab "o, itu kantor yang di depan rumah pak Karman". Pada saat itu pak Karman yang notabene masyarakat biasa, lebih dikenal daripada jawa pos.  Pak Dahlan bilang nanti jawa pos akan lebih terkenal di masyarakat, biar nanti orang balik nanya "dimana ya, rumah pak Karman?" "o, yang di depan jawa pos". Simpel mungkin, namun tentunya rasa sakit hati yang mendorong ke arah positif yang diperlukan. Kedua dari beliau, bahwa motivasi itu berbeda-beda tergantung situasi nya. Motivasi sewaktu kecil beda dengan ketika mulai membuka usaha. Ketika usahanya lebih besar lagi, motivasinya beda lagi. Dan biasanya motivasi itu datang dari tempat yang tidak diduga-duga, kebanyakan ketika kita dalam kondisi kepepet atau terpojok. Nah, kita emang butuh motivasi kapan saja, dan motivasi bisa berasal dari diri kita sendiri dan orang lain. Tentunya motivasi dibutuhkan agar kita lebih semangat dalam melakukan sesuatu.

Kedua dari bu Susi, sang menteri kelautan dan perikanan yang pernah menjadi perbincangan hangat di sosial media. Mungkin salah satu alasannya adalah karena pendidikan beliau yang bahkan tidak lulus Sma. Namun bagiku itu semua tidak masalah, selama kinerjanya bagus dan tidak menimbulkan masalah. Bukankah banyak juga di luar sana orang-orang yang sukses meskipun tidak sempat mengecap bangku sekolah. Pun demikian,  beliau menekankan bahwa pendidikan emang hal yang harus diutamakan. Apabila kau tidak sekolah, kau harus bekerja tiga kali lebih keras daripada orang yang bersekolah, begitulah tutur beliau. Namun, pelajaran tak hanya bisa dinikmati di bangku sekolah saja. Banyak pelajaran berharga yang bisa kita kutip dari kehidupan. Pesannya juga buat para sarjana agar bisa lebih baik dan bersama-sama membangun negri. Masak kalian yang sarjana kalah dari yang tidak lulus Sma, ungkap beliau. Pelajaran emang bisa didapat bahkan harus dipelajari dimana saja berada, namun apabila masih diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di sekolah maupun di bangku kuliah, ya disyukuri dan diniatkan untuk bisa lebih baik lagi.

Terakhir dari bang Tompi, penyanyi yang ternyata asli Lhokseumawe. Dia bercerita tentang pengalamannya ketika sekolah di Sma Modal Bangsa (Mosa), sma favorit yang selalu banyak peminat di tiap tahunnya pada saat ini. Dia bersama teman-teman yang berjumlah sepuluh orang selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Bahkan merelakan jam tidur mereka, mereka hanya tidur empat jam tiap harinya.  Dan ketika lulus dengan nilai terbaik, beliau merasa hebat. Bahkan ketika try out di provinsi pun selalu berada di posisi lima besar. Dengan modal itulah dia berniat untuk menaklukkan jawa. Alasannya juga karena sistem pendidikan di Aceh pada saat itu masih kalah jauh dari pulau Jawa. Akhirnya dia lulus umptn jurusan pendidikan dokter di universitas indonesia, namun hampir tidak berangkat karena tidak memiliki biaya. Namun, ibunya bersikeras agar bang Tompi berangkat. Sesampainya di jawa, baru terasa bahwa pendidikan di tempat kami jauuh sekali tertinggal daripada di sini. Mungkin itu juga yang aku rasakan, mungkin juga perasaan ini juga dirasakan oleh semua perantau dari daerah kami. Kami seperti katak dalam tempurung yang berusaha keluar untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Akhirnya beliau berhasil lulus dengan nilai terbaik di bidang bedah plastik se-Indonesia dan sekarang dia sukses di dunia musiknya. Semoga kami semua para pemuda pemudi Aceh / Gayo bisa sukses juga dan bisa memajukan pendidikan di daerah kami.

Sebenarnya masih ada satu bintang tamu lagi yang diundang yaitu pak Faisal Basri . Namun karena saya tidak mengikuti sejak awal jadi mungkin akan saya tambahkan di lain kesempatan.

Sungguh menginspirasi. Semoga acara ini terus berlanjut agar banyak yang bisa mengambil pelajaran darinya.
Salam :)


1 komentar:

  1. Suka sekali sama tulisanmu yang ini mber. Menginspirasi :) (y) (y)

    BalasHapus