Sudah memasuki jum'at kedua di tahun 2021. Melihat kilas balik di beberapa tahun kemarin, rasanya ada sesuatu yg justru berkurang bukan malah bertambah pada diri ini. Sesuatu yg dulu sempat menjadi kebiasaan baik, namun kini untuk memulai nya saja sangat sulit rasanya. Sesuatu yg biasanya mengalir begitu saja, namun saat ini rasanya seperti menggali di bebatuan, bisa sekali, namun tersendat di galian kedua dan seterusnya. Sesuatu itu adalah "Semangat Menulis".


Vakum selama bertahun-tahun membuatku benar-benar buta. Ku ingat terakhir kali menulis dengan lepas adalah ketika wisuda kuliah strata-1 ku. Semua perasaan tercurah  begitu saja layaknya air yg mengalir. Rentetan-rentetan huruf bermunculan di layar laptop yg sudah mulai usang. Membentuk rangkaian kata menjadi cerita yg enak dibaca. Namun kini, sekedar membuat satu kalimat saja butuh waktu seminggu untuk memikirkannya. Belum lagi ketika kalimat satu dan yg lainnya tak cocok. Harus dihapus dan tulis ulang berkali-kali. Sehingga tak pernah membentuk suatu tulisan yg bermakna. 


Aku sadar. Selama tamat kuliah, aku sudah jarang membaca buku. Sudah jarang menulis cerita. Aku terlalu sibuk dengan dunia yg baru. Sehingga lambat laun semangat menulis juga mulai pudar. Ia mulai hilang meninggalkanku. Sama seperti aku meninggalkannya. 


Alhamdulillah semangat itu mulai muncul kembali di akhir tahun 2020 kemarin. Sempat menantang diri sendiri bersama seorang sahabat untuk mulai menulis kembali. Ku Motivasi diriku agar semangat lagi. Alhasil, beberapa tulisanku kembali muncul. Namun seperti kata pepatah, ala bisa karena biasa. Vakumnya diriku di dunia tulis menulis selama +- 4 tahun, membuat kualitas tulisanku menurun drastis. Dari ide kepenulisan yg terkesan dipaksakan maupun dari kaidah kepenulisan yg sudah tak tau entah bagaimana. 


Penyesalan-penyesalan mulai muncul. 


Namun aku bertekad akan berusaha untuk terus Berjuang menemukan "semangat menulis" Ku yg dulu. Doakan aku ya kawan-kawan. 


"Menulis lah apa yg ingin kau tulis. Bukan menulis apa yg orang ingin baca"


 "Wah hasil yang luar biasa!" ucap pak Salim, dosen pembimbing skripsiku. 

"Baiklah. Selamat untuk kalian berdua. Kalian sudah boleh daftar sidang bulan ini. Yang terpenting jangan lupa belajar lagi untuk persiapan. Bapak doakan semoga lancar ya! " Lanjut beliau, sambil membubuhkan tanda tangan di lembar pengantar sidang.

"Alhamdulillah. Terimakasih banyak pak" Jawab kami serentak. Kami sangat bersyukur di detik-detik terakhir kami hampir putus asa, Allah mengirimkan pertolonganya melalui jalan yang tidak pernah kami sangka. 2 minggu yang lalu, seorang alumni yang kebetulan singgah ke kampus, tak sengaja mendengar obrolan kami ketika lewat di depan lab. Setelah mendengarkan cerita kami, akhirnya beliau memberitahu bahwa di laboratorium tempat ia kerja, ia punya sampel yang kami butuhkan. Beliau juga tak sungkan-sungkan memberitahu prosedur untuk mendapat sampel tersebut. Akhirnya kami sempat melakukan 5 kali pengulangan pervariabel, dan mendapat hasil yang sesuai harapan. 

Kami berdua menuju ruang departemen untuk mendaptar sidang. Setelah mengumpulkan beberapa berkas persyaratan, kamipun pulang. Besok jadwal sidang kami keluar. Kami harus bersiap. 

- to be continued... 

#challengecomeback15desember2020

"Pagi pak! " Ucapku kepada pak Ridwan. Satpam fakultas itu menjawab sambil tersenyum. 

"Pagi juga le...". 

" Udah makan sarapan belum pak? Ini saya bawakan nasi bungkus " Tanyaku sambil menyerahkan bungkusan plastik berisi nasi dan teh hangat itu. Aku sengaja beli dua bungkus di warung dekat kosan tadi. Satu untukku, satu lagi untuk sedekah. Ayahku selalu bilang untuk senantiasa membiasakan sedekah walau hanya dengan segelas air putih. "Jumlahnya tak penting, yang penting niat kita " Kata ayah. Pagi ini rejekinya pak Ridwan, orang yang selalu menjaga keamanan dan ketertiban di fakultasku. Pak Ridwan juga sosok yang kukagumi. Di umurnya yang sudah tak muda lagi, ia masih tetap istiqomah untuk datang paling pagi demi membuka gerbang untuk para mahasiswa dan dosen. 

"Waduh. Kok malah repot-repot le... Bapak sudah ngopi kok barusan, emang belum makan nasi sih... Makasi banyak ya Lee... Semoga sehat selalu" Ucap Pak Ridwan. 

"Aamiin... Gak baik lo pak minum kopi sebelum sarapan entar malah sakit lambung lo... " Candaku. Beliau hanya tersenyum. 

"Saya masuk dulu ya pak" Ucapku sembari memasukkan sepeda motorku keparkiran. Sebelum naik ke lantai 3 ( laboratorium tempatku melakukan penelitian) kusempatkan singgah ke musholla untuk sholat dhuha.

***

"Hmm, variabel ini harus diulangi setidaknya 3 kali lagi, untuk mengetahui hasil yang lebih spesifik. Jika kita menggunakan 3 pereaksi berbeda maka kita butuh waktu 9 hari paling cepat untuk tahu hasilnya. Itupun jika tidak bermasalah" Jelas Reza, rekan skripsiku. 9 hari bukan masalah besar batinku. Namun ada hal yang masih mengganjal, 


"Baiklah aku sudah tahu gambarannya. Namun sepertinya masalah kita ada di sampel. Aku tak yakin kita punya cukup sampel untuk melakukan 9 kali pengulangan. Bagaimana menurutmu? " Tanyaku. 

"Iya juga sih. Kemarin setelah kucek sampel kita hanya bisa untuk 5 kali percobaan lagi. Kalau harus pesan lagi, kita harus nunggu 3 bulan nih baru sampelnya sampai". Kami berdua berpikir keras, berusaha untuk mencari solusi yang tepat untuk permasalahan kami. Kalau harus menunggu 3 bulan untuk sampel yang baru, kami tak akan sempat untuk mendaftar sidang tahun ini. Artinya masih harus nambah satu semester lagi. Dan tentunya itu sangat tidak mungkin bagi kami. Kalau harus mengurangi percobaan, belum tentu hasilnya bagus. Kalau ganti variabel, maka harus mengulang lagi dari awal. " Pusing!!! "

Di tengah kebingungan kami, Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam laboratorium dan ikut nimbrung dengan obrolan kami. Setelah mendengar permasalahan kami beliau berkata,...


-to be continued.... 


#challengecomeback14desember2020

Cuaca malam itu sungguh bagus. Meski tak terlihat bintang yang berkelipan, para penumpang pesawat tampak tenang. Sebagian dari mereka asik bercakap-cakap dengan teman di sebelahnya. Sebagian lagi asik melahap makanan yang baru saja disajikan. Ada pula yang terlihat lelap dalam tidurnya. 



Di salah satu bangku penumpang, seorang gadis berkerudung merah tampak serius mencoret-coret notesnya. Sambil mendengarkan musik melalui earphone, ia tampak menikmati kegiatannya tersebut. Gadis tersebut bernama Aisyah Nur Azkiya. Ia adalah salah satu mahasiswi berprestasi yang akan melaksanakan program Student Exchange di kampus luar negeri. Aisyah berhasil melewati seleksi super ketat yang diadakan oleh kampus, mengalahkan ratusan pesaing bersama dengan 4 orang lainnya dengan program yang berbeda. Mereka berlima akan melaksanakan program tersebut selama 2 semester di negeri Sakura. 

"Selesai!" Ucap Aisyah lirih. Ia mematikan musik dan melepas earphonenya. Kemudian ia kembali memandangi hasil corat-coretnya di kertas. List target yang harus ia capai dan halal baru yang harus dipelajari tertera dengan rapi disana. Baginya, bisa berangkat ke luar negeri bukanlah hal yang harus ia banggakan, melainkan apa yang bisa dipelajari nya di negeri orang itulah yang harus ia kejar. Program pertukaran mahasiswa ini bukanlah ajang untuk main-main. Berapa banyak orang lain yang ingin berada di posisinya untuk mencari ilmu, namun harus merelakan tekadnya karena tak lolos seleksi. "Bukankah zalim jika aku hanya main-main? " Ucapnya dalam hati. " Aku tak boleh membiarkan waktuku menjadi sia-sia disana. Aku harus belajar dengan giat! " Lanjutnya. 

Aisyah melirik jam tangannya, sudah pukul 20.19. Cacing di perut sudah meronta-ronta minta diisi. Ia teringat belum makan sejak naik pesawat. Aisyah segera merapikan buku catatan dan alat tulisnya dan mengeluarkan kotak makanan. Setelah membaca do'a, gadis itu makan dengan perlahan. 

- to be continued... 

#challengecomeback13desember2020

 Langit sore tampak cerah. Semburat warna jingga hiasi angkasa, pertanda mentari akan segera kembali ke peraduannya. Dalam hati aku bersyukur, cuaca cerah tidak akan mengganggu perjalanan langit. Semoga selamat sampai tujuan, gumamku. 


Akhirnya aku tiba di kosan. Kuhempaskan tasku di atas meja dan kubaringkan tubuhku di atas kasur yg mulai menipis. Lelah. Ketika mata hendak terpejam, kulirik jam dinding menunjukkan pukul 16.55. Celaka! Aku teringat belum sholat ashar. Segera kuambil handuk dan menuju kamar mandi. Kran kuhidupkan dan kurasakan segarnya air yang mengalir. Segera aku mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat. Selepas sholat, kuistiratkan tubuh sejenak sambil berzikir. Tak lama kemudian aku tertidur. 


***


"Allahu Akbar... Allahu Akbar.... "

Suara azan membangunkanku dari tidur. Aku segera bangun dan bersiap untuk sholat berjamaah. Selepas mengaji, kubuka laptopku. Aku teringat bahwa ada revisi yang belum kukerjakan. Kulihat kalender di dinding, angka yang kulingkari semakin mendekat. Ya, aku harus mengejar sidang bulan depan. Kalau tidak, terpaksa harus menambah satu semester lagi, dan tentunya itu tak boleh kulakukan. Teringat bahwa jatah beasiswaku tinggal semester ini saja, dan jika terpaksa harus lanjutpun aku tak yakin punya biaya. Beruntung aku punya partner penelitian yang baik. Dia selalu membantu dan mengajariku ketika ada hal yang tak kupahami. Aku benar-benar bersyukur masih diberi kesempatan bisa berkuliah dengan beasiswa dan bertemu dengan orang-orang yang hebat, serta masih punya orang tua yang selalu mendukung dan menyemangatiku. Demi mereka, aku harus lulus tahun ini! Tekadku dalam hati. 


Kubuka lembaran skripsiku. Masih ada beberapa variabel yang harus diuji ulang, dan aku masih kekurangan referensi. Kubuka link jurnal yang dikirim kawanku, setelahn mengetik beberapa kata dan mengklik tombol pencarian, berbagai jenis jurnal yang berhubungan dengan penelitianku muncul. Aku harus memfilternya. Semangat-semangat! Ucapku dalam hati. Tak terasa azan isya pun berkumandang. Kusimpan file-file yang kubutuhkan dan aku bergegas menuju masjid. Panggilan Allah lebih penting dari apapun. 


- to be continued...

#challengecomeback30november2020

"Jika kau ingin meraih langit, maka kau harus berani untuk terbang. Kalau kau tetap tak berani, aku siap jadi tanggamu" 

***


Kupercepat laju motorku. Masih ada 2 tikungan lagi untuk tiba di tujuan, ditambah dengan waktu parkir, fix! Aku terlambat. 

"Pesawat dengan kode penerbangan Ai 202 akan segera berangkat. Penumpang yang masih berada di luar, harap segera menaiki pesawat" suara pengumuman terdengar dari speaker yang berada di ruang parkir. Setelah mengunci motorku, ku berlari ke ruang tunggu keberangkatan. Sialnya aku lupa, tanpa tiket aku tak bisa masuk. Beberapa petugas terlihat di pintu masuk. Aku berusaha menjelaskan bahwa urusan ini sangat penting, namun sia-sia saja. Mereka bahkan tak mengijinkanku bergerak barang selangkahpun melewati pintu masuk. Aku berencana untuk menerobos, namun sepertinya mereka tahu maksudku sehingga mereka tak melepas pandangannya dariku. Aku putus asa. Merutuk kenapa bisa-bisanya aku tak memprediksi kemacetan di jalan tadi. Jika saja aku berangkat lebih cepat, tentu aku masih punya kesempatan. Bunyi dari pengeras suara membuyarkan lamunanku. 
"Pesawat dengan kode penerbangan Ai 202 akan segera berangkat. Penumpang yang masih berada di luar harap segera menaiki pesawat"
"Gawat! " Aku benar-benar harus masuk. Ketika pandangan para petugas beralih, aku mengambil ancang-ancang untuk menerobos. Tiba-tiba... 
"Ting! "
Ponselku berbunyi. Ternyata ada pesan : 

" Aku sudah naik pesawat ya. Ni udah mau berangkat. Doakan ya semoga selamat sampai tujuan dan dimudahkan segala urusan. Jaga dirimu baik-baik sampai aku pulang :) 


Ps : tenang, tadi aku sempat liat kamu kok, lari-lari sampai mau berkelahi sama petugas. Hehe. Terimakasih ya udah nepatin janji

See U "

Segera kupencet tombol panggil. "Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Silahkan tinggalkan pesan anda setelah nada berikut.... Tut... Tut... Tut... "

"Baik-baik di negeri orang. Semoga Allah selalu menjagamu"

- to be continued... 


#challengecomeback28november2020





Hari ini Allah telah menunjukkan lagi padaku kepingan hidup yang baru, yang mungkin selama ini kucari bertahun-tahun. Kepingan berupa kebahagian yang hadir bersama senyuman orang-orang yang kusayangi. Tentu bahagia ini tak hanya datang dari usaha semata, melainkan dari doa-doa semuanya, dan Allah yang menjawabnya. Akhirnya aku wisuda.

Rasanya begitu cepat, pun juga begitu lama. Entahlah. Waktu layaknya dimensi yang sulit untuk dipikirkan. Ia terasa begitu cepat bagi mereka yang sedang dilanda asmara, pun terasa begitu lambat berputar bagi mereka yang tengah menunggu. Cepat atau lambat waktu akan tetap berjalan. Hingga ketika kita sadar kita telah berada di tempat yang jauh dan tak mungkin kembali lagi. Itulah mengapa ada pepatah mengatakan “waktu adalah pedang”, ya ia siap menebas siapa saja yang lalai. Maka dari itu kita tak boleh menyia-nyiakan waktu sedetikpun. Berharga atau tidaknya waktu baru akan terasa ketika kita telah melangkah jauh, dan beruntunglah bagi mereka yang menghabiskan waktunya dengan senantiasa melakukan hal-hal yang baik.

Roda kehidupan juga terus berputar, tak ada yang bisa menebak kapan ia berada di atas kapan berada di bawah. Antara susah dan senang, antara sedih dan bahagia, antara tangis dan tawa, sebentar atau lama, semua pasti berlalu. Begitulah kehidupan. Aku bersyukur telah melalui semuanya bersama mereka, orang-orang hebat yang senantiasa mendukung dan menemani tiap langkah yang telah terlewati.
***
25 Juli 2005

Hari pertamaku meninggalkan rumah. Mulai merantau untuk menimba tetes demi tetes ilmu dari sumber apa saja. Pondok Pesantren Nurul Islam adalah tujuan pertamaku. Berjarak 55 KM dari rumah, aku harus melalui jalan berkelok-kelok dan naik turun selama hampir 2,5 jam dengan menumpang bis umum untuk menuju tempat ini. Tak semuanya mulus, kadang ada saja halangan. Tahun pertamaku kulalui dengan sering sakit-sakitan, mungkin aku adalah salah satu santri yang memiliki fisik terlemah di saat itu. 3 tahun kulalui semua rintangan itu dengan tangis dan senyum, tentunya dengan sahabat-sahabat senasib seperjuangan. 3 Tahun berlalu, sekolah menengah pertamaku di Madrasah Tsanawiyah Nurul Islam telah kulewati. Namun aku tak langsung pulang, aku memutuskan melanjutkan Aliyah disana. Berawal dari santri lemah yang sering sakit-sakitan, sistem imun tubuhku berkembang lebih kuat dibanding teman-temanku, entah itu adalah teori yang benar atau hanya sebatas sugestiku saja, yang jelas saat Aliyah aku sudah jarang sekali sakit, aku tak lagi si lemah dulu. Sekarang aku sama seperti yang lainnya, setiap sore berolahraga ria di lapangan depan masjid. Aku juga mulai sering menjadi “tumbal” yang dikirim mewakili pesantren maupun kabupaten. Dari sanalah aku bertemu banyak teman baru dan ilmu baru. Semakin lama aku semakin sadar bahwa ilmu yang kumiliki masih sedikit sekali. Kata ayah di tanah Jawa, banyak tempat kuliah yang bagus, dan tentunya lebih banyak wawasan yang kudapat jika aku berangkat kesana. Sudah kuputuskan selepas Aliyah aku ingin berangkat ke Jawa. Selepas kelulusan, aku dan teman-teman mulai berburu informasi tentang tempat kuliah terbaik.

Roda kehidupan berputar lagi disana, layaknya para pejuang lain, tak ayal sering kutemukan hal-hal yang tak diharapkan, kegagalan. Entah berapa kali mencoba di universitas-universitas yang berbeda, menunggu kabar berminggu-minggu tanpa kepastian, dan di saat hari-H tiba justru kabar buruklah yang diterima.  Pepatah benar, kau harus jatuh terlebih dahulu untuk bangkit. Untuk belajar menerima semua kondisi yang telah diberikan. Pada akhirnya kita tetaplah manusia, yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha, berusaha dan terus berusaha dibantu dengan doa dari diri sendiri dan dari sekitar. Percayalah Allah tidak buta akan usaha-usaha hambaNya dan tidak pula tuli terhadap doa-doa kita. Mungkin Allah hanya ingin menguji hambaNya lebih dan menjawab doa-doa hambaNya di waktu yang lebih tepat. Akhrinya di tengah keputusasaan tersebut, muncullah berita baik. Alhamdulillah aku keterima di Universitas Airlangga, dan juga sebagai salah satu penerima beasiswa santri. Sujud syukur yang tak terkira, akhirnya Allah menjawab doa-doa kami. Aku kuliah di Jawa!

Perjuangan tak hanya sampai disana, kabar tentang tes lanjutan kembali menghantui. Bayang-bayang tentang kegagalan kembali mengusik waktu tidurku. Dan bayangan itu benar-benar datang, mencekikku dengan nyata, seolah-olah berkata “pulanglah saja, tempatmu bukan disini”. Sedih? Pasti. Tak hanya diriku, ini juga kesedihan bagi kedua orang tua dan teman-teman yang melepas kepergianku dengan air mata. Rasanya malu sekali, karena sampai di titik ini, aku masih saja melakukan kesalahan. Namun, prajurit yang tangguh tak kan pernah menyerah bukan? Karena untuk menjadi kesatria memang dibutuhkan tangis dan air mata. Kuputuskan aku menetap disini, mencari informasi tempat kuliah yang lain.

Layaknya gelap dan terang, manis dan pahit, kesedihan juga akan datang dibarengi dengan kebahagiaan. Muncul kabar untuk tes kedua. Dengan meminta doa restu, kumulai lagi dengan mengucap bismillah. Saat itu, aku sudah mendaftar di universitas lain, dan tak terlalu berharap hasil bagus. Mungkin Airlangga emang terlalu tinggi untuk bisa kumasuki. Kenyataan mengatakan lain, tes keduaku menyatakan bahwa aku lulus. Alhamdulillah, sungguh Allah menurunkan kesenangan setelah kesulitan. Akhirnya aku bisa bergabung dengan 30 anak lainnya (yang saat ini menyebut nama mereka sebagai angkatan kepompong).

Tentunya, roda kehidupan tak berhenti disana bukan? Ia masih tetap berputar dan terus berputar. Masa-masa sulitku di semester awal, berjibaku dengan mata kuliah dasar yang sama sekali awam, menjadi bike traveler sendirian, berburu ta’jil di bulan Ramadhan, menghabiskan lebaran idul fitri dengan tidur seharian (karena sakit), suka sama orang tapi Cuma bisa diam (eh), tidur di pinggir jalan karena jemputan tak kunjung datang, dan masih banyak hal lainnya. Banyak hal telah terjadi, entah itu datang membawa berita gembira atau malah sebaliknya. Yang jelas semua hal itulah yang telah membentuk diriku saat ini. Segala sesuatu tentunya memiliki alasan mengapa ia terjadi. Selama kita bisa menghadapinya dengan bersyukur dan tidak mengeluh, insya Allah segala sesuatu itu akan berbuah berkah.
***
19 Maret 2016

Rentetan-rentetan peristiwa terus terbayang di kepala layaknya rol film dokumenter yang sedang diputar terus menerus. Hingga rol itu berhenti. Disini. Di antara ribuan mata yang memandang, dan ribuan doa yang terus mengalir, serta ribuan senyuman yang memiliki masing-masing arti. Disini aku berdiri, mengenakan toga kebesaran, menyalami pak dekan dan dilepas dengan gelas S.Si dan tanggung jawab yang menyertai gelar tersebut. Disini aku, akhirnya wisuda.

PS : Big thanks buat Ayah dan Ibu atas dukungan, restu dan doa-doanya selama ini sehingga aku bisa sampai di titik ini. buat adik-adik Ifa dan Nisa, semoga kalian senantiasa menjadi anak yang berbakti bagi kedua orang tua kita dan menjadi manusia yang berguna bagi sekitarnya. Buat Fiza dan Samsul, tetap semangat kawan, percayalah kemenangan akan datang bagi mereka yang tidak kenal kata menyerah, dan aku percaya kalian bisa melakukannya. Buat sahabat sekaligus rival terbaik (maya dan nyata :p) Anne-san, semoga Allah selalu meridhoi dan memudahkan jalanmu dan semoga kesuksesan selalu menyertaimu. Buat mbak Daris, terimakasih sudah menjadi sosok kakak yang baik, menyenangkan dan selalu menginspirasi. Dan buat Nurul, semoga Allah selalu melindungimu dimanapun kamu berada. Serta buat semua teman-teman, bomber Ira, Fera, Kokom, Dedek, Ridwan, Sis, Safa, Sangit, mbak Halimah, mbak Arju, mbak Fidah, mbak Mela, Imem, Fahmi Saudara-saudari angkatan kepompong, Teman-teman MAKENI, Sahabat Mahacafe, Teman-teman Angkringan Vintage, Teman-teman Pipet Tetes XI, Teman-teman Kimia 2011, Keluarga besar CSS MoRA Unair, Teman-teman KKN 51 Dlururejo, Buat Depag juga (sekarang Kemenag) sudah memberi kesempatan istimewa ini, buat ustadz-ustadzah di Nurul Islam, dosen-dosen, karyawan, pegawai lab dan semua-muanya yang tak bisa disebutkan disini, semoga kebaikan selalu menyertai kalian semua. Aamiin.

Surabaya, 19 Maret 2016
A.R.H










“Tanpa mimpi, orang-orang seperti kita akan mati” – Andrea Hirata, Sang Pemimpi.

Setiap orang pasti memiliki mimpi ataupun cita-cita dalam hidupnya, tak peduli seberapa besar atau kecil mimpi tersebut. Semuanya berhak untuk bermimpi, dan tentu saja semua juga berhak untuk menjadikannya nyata ataupun tidak. Betapa mimpi memberikan efek yang besar bagi sebagian orang. Dengan mimpi, seseorang jadi mempunyai tujuan dalam hidupnya, tujuan yang harus ia capai. Dan dengan mimpi pulalah, hidup akan terasa lebih menantang.

Namun pada kenyataan memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Mimpi yang besar membutuhkan perjuangan yang besar pula. Tak jarang dari kita yang berhenti di tengah jalan hanya karena merasa tak sangggup untuk menggapai mimpinya. Dan kala itu terjadi, seseorang bisa menjadi malas bahkan untuk melakukan aktivitas lainnya. Seharusnya, mimpimulah yang membuatmu kuat, yang membuatmu lebih semangat dalam melakukan aktivitas apapun demi mewujudkan mimpi tersebut.

Kita sendiri yang lebih tau apa potensi yang ada dalam diri kita, dan kita pula yang lebih tau seberapa besar kemampuan kita. Bermimpilah setinggi langit. Kita bebas memiliki mimpi sebesar apapun. Namun usaha kita juga harus berbanding lurus dengan besarnya mimpi kita, jika kita ingin mereka terwujud. Tak mungkin kan, jika kita bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional, namun tak pernah berlatih. Begitu juga jika kita ingin menjadi penulis hebat, yang karya-karyanya selalu best seller, namun malas membaca dan jarang berlatih menulis, tentu akan sangat sulit untuk mewujudkannya. Maka dari itu kita harus berjuang agar mimpi kita tak hanya menjadi mimpi belaka. Pun jika nantinya hasilnya tak sesuai, setidaknya kita sudah berusaha. Sungguh perjuangan dalam meraih mimpi itu sendirilah yang membuat mimpimu lebih berwarna, yang membuat mimpimu lebih indah jika ia tercapai kelak.

Masing-masing pribadi juga memiliki cara-cara yang berbeda dalam mewujudkan mimpinya. Namun kebanyakan setelah menuliskan target apa yang ingin ia capai, maka ia akan menuliskan tahap-tahap yang akan ia lakukan untuk memudahkan pencapaiannya. Bagi penulis, blog ini merupakan salah satu sarana latihan untuk mengasah kemampuan baik menulis maupun desain web. Maka dari itu terus dilakukan perbaikan demi perbaikan yang bertujuan untuk membuat tampilan blog lebih enak dilihat dan konten-konten yang mudah dibaca. Selain itu juga untuk mengetahui seberapa banyak penulis bisa berkembang melalui blog ini. Harapan ke depannya blog ini bisa menampilkan konten-konten yang bermanfaat bagi pembaca maupun bagi penulis sendiri.

Marilah berjuang untuk menggapai mimpi masing-masing. Agar kita tak menyesal di kemudian hari jika tak bisa mewujudkannya karena kita suka bermalas-malasan. Ganbatte!

Salam...



­-ARH


Salam
Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dikarenakan tampilan blog yang selalu berubah-ubah. Penulis masih berusaha melakukan perubahan tampilan agar blog semakin baik ke depannya. Terimakasih atas perhatiannya. Always stay tune!
-Admin, ARH

Salam. Rabu kedua bulan Januari.
Sudah hampir 2 minggu 2015 pergi, di 13 hari yang terlewati ini, banyak hal telah terjadi. 

Kau tau? Mungkin seulas senyummu sudah cukup untuk menenangkan hatiku.
Kau tau? Berbagi harapan denganmu adalah suatu hal yang aku selalu aku tunggu.
Kau tau? Meskipun terkadang harapan yang selalu kita semogakan tak pernah bertemu, aku tetap ingin selalu melihatmu tersenyum.

Meski ratusan hari telah lewat. Senyummu tetap yang paling kutunggu. 
Meski harus saling mengikhlaskan. Mungkin untuk saat ini. Namamu masih terus mengalir dalam doa-doaku. Semoga senantiasa dalam perlindunganNya. Hingga waktu memberi jawaban pasti. 

Dan saat itu tiba, kuharap senyummu masih sama. Meski bukan lagi untukku :')

Penghujung malam, rabu kedua bulan Januari
- ARH-


Salam. . .
"Siapapun dirimu yang membaca tulisan ini, semoga Allah senantiasa memberikan nikmat sehatnya padamu juga padaku agar bisa terus menulis."

Malam ini masih kamis pertama di 2016, pun juga masih kamis pertama di bulan Januari, bulan pembuka di tiap tahunnya. Meskipun sekarang kamis pertama, ini sudah hari ketujuh di bulan ini. Sudahkah ada perubahan yang berarti, setelah di penghujung tahun kemarin berlomba-lomba membuat resolusi? Semoga sudah. Meskipun hanya bait-bait kecil. Jikapun belum, janganlah patah asa, tetaplah berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Untukmu dan untuk orang yang akan mendampingimu kelak. Juga untuk seluruh semesta.

Hari ini, masih sama. Surabaya masih tetap panas meskipun terkadang hujan turun sesekali. Meskipun ujian semester yang Insya Allah terakhir sudah berlalu tadi siang, namun semangat belajar tetap tak boleh turun. Masih banyak hal yang perlu dipelajari. Di sekolah sebenarnya, maupun di 'sekolah' kehidupan yang lebih nyata. Bukankah kewajiban menuntut ilmu baru berakhir setelah kehidupan dunia berakhir? 

Lelah? Itu wajar. Justru lelah adalah bukti bahwa kamu sedang berjuang bukan? Percayalah, proses takkan mengkhianati hasil. Pun jika hasil belum sesuai dengan yang diharapkan? Itu tandanya kita masih perlu banyak belajar sabar. Dan tetap jangan lupa untuk selalu bersyukur, jika hasilnya memuaskan. 

Semoga detik-detik yang akan dilewati di masa depan. Bisa lebih bermanfaat. Bisa membuat kita lebih menghargai hidup. Mensyukuri semua keadaan. Dan menjadi orang yang tidak mudah mengeluh.

Kamis pertama bulan Januari, 23:55
ARH

Banyak cara anak muda untuk menghabiskan sabtu malamnya. Ada yang bersantai sambil bercanda ria bersama keluarga tercinta di rumah, ada yang bersetelan bagus membawakan bunga untuk sekedar mengajak kekasihnya makan, ada juga yang berdiam diri di kamar kos entah untuk bermain game atau tidur. Namun berbeda dengan kami, kami mengisi malam minggu kami dengan menghabiskan waktu di tengah-tengah "keluarga" di "rumah" yang kami tinggali selama 4 tahun berada disini.

Malam ini tak sama, meski terlihat sama dengan malam-malam yang biasanya. Malam ini berbeda, berbeda dengan puluhan-bahkan ratusan malam minggu yang telah kami lewati. Malam ini kami tetap berkumpul, bercerita, tertawa, bahkan menangis sama seperti malam yang sudah pernah kami lewati sebelumnya. Malam ini berbeda, karena kami tak pernah tahu apakah kami masih memiliki malam-malam yang bisa kami habiskan untuk sekedar bertatap mata. Malam ini (bukan) malam perpisahan. 

Pernahkah kau melihat pelangi? Ia tampak indah dengan 7 warnanya bukan? Ia selalu hadir setelah badai menerpa. Namun, maukah kau kuberitahu ada yang tak kalah indahnya dengan pelangi? Jawabannya adalah "mereka". Mereka yang bertemu dalam takdir, yang akan terpisah juga karena takdir. Pelangi sungguh terlihat indah dengan spektra me-ji-ku-hi-bi-ni-u nya. Namun mereka, dengan 31 warna dari setiap seseorangnya membuat mereka terlihat jauh lebih indah dibanding pelangi. Merekalah para awak kapal yang dinahkodai dengan 2 orang kapten dengan sifat yang berbeda, mengarungi samudera dengan bahtera yang sama, Bahtera yang mereka sebut sebagai "keluarga". 

4 tahun lamanya sudah mereka berkelana bersama, mengarungi lautan ganas namun mereka tetap teguh bersama. Meski badai datang, mereka bahu-membahu untuk menarik layar. Meski beberapa dari mereka ada yang tak sanggup dan memilih untuk mendoakan mereka saja. Layaknya para petualang lainnya, tiap awak kapal memiliki mimpi dan angan yang terkadang berbeda ketika memutuskan untuk ikut berlayar. Namun, meskipun demikian mereka memutuskan untuk tetap bersama hingga saat ini. 

Mungkin memang sudah saatnya kapal ini melempar sauh, mengirim kapal-kapal kecil mereka untuk mengejar mimpi mereka masing-masing hingga ke ujung dunia. Toh memang sudah nasabnya pertemuan selalu dipasangkan dengan perpisahan. Mereka yang dipertemukan dengan takdir, harus menerima juga ketika tiba saatnya dipisahkan. Sudah saatnya bahtera ini berlabuh, sambil menunggu kabar dari anak-anak kapalnya ketika mereka kembali dengan senyum ceria karena telah berhasil meraih apa yang diimpikannya. Meski tanpa mengucap janji akan bertemu, jauh di dalam lubuk hati mereka mengikrarkan sendiri kalau mereka akan kembali bertemu. Bersua kembali, saling berbagi cerita, menertawai kekonyolan yang lain, bersedih ketika yang lain bersedih dan banyak hal lainnya yang bisa mereka lakukan ketika bersama. Dan beberapa hari lagi mereka akan berlayar dengan kapal masing-masing untuk menjemput mimpi mereka.

Pertemuan memang sudah didesain agar selalu berdampingan dengan perpisahan. Namun maukah kau percaya? Seperti aku yang mempercayainya. Bahwa di balik perpisahan yang terjadi akan ada pertemuan kembali. Pertemuan takdir, sama seperti kita yang dipertemukan sebelumnya. Di saat itu tiba aku yakin kalian sudah berhasil menggenggam mimpi-mimpi kalian. Di saat itu tiba, masih maukah kau berbagi cerita? kesenangan maupun kesedihan, berbagilah padaku. Sama sepertiku yang akan membagikan kisahku pada kalian. Maukah kalian berdoa, sampai saat itu tiba? Sama sepetiku yang tak pernah alpa menyebut kalian dalam tiap pertemuanku dengan-Nya. Maukah tetap memanggilku keluarga? Sama sepertiku yang selalu merindukan kalian sebagai saudara. 


Semoga kalian mau :) 
Sekali lagi ini (bukan) perpisahan. Ini hanya persiapan untuk pertemuan kedua kita nanti :)

Surabaya, 13 September 2015
~ Ayip ~                  

Aku hampir tak mengenali tempat ini. Begitu sepi dan gelap. Banyak sarang laba-laba bergelantungan di sudut-sudut ruangan. Debu-debu menempel di setiap perabotannya. Entah berapa lama aku pergi, aku hampir lupa. Terlalu sibuk menghadapi dunia luar yang tak mengenal kata istirahat membuatku jarang mengunjungi tempat ini. Tanaman-tanamannya yang layu adalah bukti bahwa sudah terlalu lama aku tidak disini.
Ku buka jendela agar angin segar memasuki rumah mungil ini. Kulihat rumah sebelah, halamannya yang asri dan bunga-bunga yang bermekaran menandakan bahwa ia terawat dengan baik. A Danbe. Begitulah namanya sesuai dengan kotak pos yang ada di depan rumahnya. Tanamannya tampak segar sore ini, tampaknya ia baru saja menyiramnya. Jadi teringat dulu sebelum aku memutuskan untuk pergi sejenak, aku sering menemukan sang empunya tengah asyik menyirami bunga sambil memberi makan kucing peliharaannya. Sepertinya dia masih sering melakukannya meskipun di tengah padatnya aktivitasnya. Tetanggaku yang satu ini emang baik, dulu Ia juga sering mengantarkan pie apel ke rumahku, meskipun aku jarang mengembalikan wadahnya.



Aku bergegas menuju belakang. Aku tak bisa duduk-duduk saja dengan tenang melihat ruangan tak tertata seperti ini. Debu-debu yang menempel aku bersihkan, sarang laba-laba di sudut ruangan pun meminta untuk dihilangkan. Selanjutnya ku sapu dan ku pel lantainya. Sofa, meja dan beberapa barang-barang lain aku pindahkan posisinya untuk mengubah suasana. Dan selesai. Tak memakan banyak waktu, karena aku sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Adzan magrib berkumandang mengajak hati untuk bertemu Sang Pencipta. Dengan sigap ku ambil handukku dan bersiap-siap untuk berjamaah ke masjid.
Di perjalanan sepulang dari masjid ku lihat rumah-rumah yang lain. Rumput-rumput di halaman mereka juga sudah cukup tinggi, lampunya juga tidak menyala, sepertinya si empunya juga sedang tidak di rumah. Berjejer rumah nomor 5, 4, dan nomor 3 milik hipokampus juga tampaknya sudah tak dihuni lagi, mungkin pemiliknya sudah berpindah tempat. Selanjutnya A Danbe nomor 2 dan rumahku sendiri nomor 1.
Tubuh yang lelah setelah aktivitas panjang membuat mata ini mengantuk. Ku coba menghilangkannya dengan berniat membuat segelas kopi. Ketika sampai di dapur aku baru ingat bahwa kulkasku kosong. Aku lupa berbelanja sebelum pulang tadi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari depan ......... (bersambung)
Sukses? Tentu kata ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bagi sebagian dari kita, sukses mungkin adalah kondisi dimana kita berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Namun, apakah kesuksesan setiap orang bisa diukur dengan tolok ukur yang sama? Apakah sukses melulu soal kekayaan, karir maupun profesi? Tentu tidak bukan? Setiap orang memiliki standar kesuksesan masing-masing yang mungkin berbeda dengan yang lainnya. Tentu anda juga punya pandangan tersendiri tentang kesuksesan. Namun tahukah anda kesuksesan sejati yang hanya sebagian orang menyadari? Berikut ulasan tentang kesuksesan dan beberapa cara untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sukses berarti berhasil atau beruntung, sedangkan kata kesuksesan bermakna keberhasilan atau keberuntungan. Jadi bisa dianggap bahwa sukses adalah keberhasilan dalam mencapai tujuan tertentu. Setiap personal tentu memiliki tujuan yang berbeda dalam hidupnya, jadi sampai saat ini belum ada tolok ukur tertentu seseorang bisa dikatakan telah sukses. Kesuksesan bisa jadi berbeda tergantung dari sudut pandang sesorang, misal seorang petani yang sudah bertahun-tahun bekerja di sawah sampai saat ini masih tetap menjadi petani saja, apakah hal itu menandakan bahwa ia tidak sukses karena hanya bertani saja? Tentu tidak bukan? Bahkan seorang petani juga memiliki standar kesuksesan tersendiri. Misal, tahun ini bisa panen 3 kali, maka tahun depan berusaha untuk bisa panen 4 kali. Meskipun jika tahun depan ia tidak bisa memanen sebanyak 4 kali, bukan berarti ia tidak sukses. Bukankah bisa menghasilkan padi yang baik dan akhirnya bisa menjadi konsumsi pokok sehari-hari adalah suatu kesuksesan? Seorang pedagang juga, apabila ia telah lama berdagang dan tokonya tetap saja kecil, sama seperti saat ia mulai berdagang, apakah yang demikian bisa kita sebut bahwa pedagang tersebut gagal? Tentu tidak, bisa jadi tujuannya berdagang bukan hanya demi mendapatkan materi semata-mata, namun bisa memberi kehidupan yang layak bagi keluarganya sudah cukup baginya. Hal tersebut juga bisa dikatakan bahwa ia telah mencapai dan menikmati kesuksesannya sendiri.

Namun di era saat ini, kesuksesan seolah-olah sudah memiliki ukuran tersendiri. Berprofesi sebagai bos di perusahaan besar, punya rumah mewah, pergi kemana-mana mengendarai kendaraan pribadi dan lain sebagainya baru dianggap sukses. Apabila sukses hanya dilihat dari kacamata dunia yang penuh hegemoni ini tentu orang yang memiliki itu semua dianggap sukses, karena memang jalan yang ditempuh untuk menggapai itu semua juga berat. Namun, sukses tidak melulu tentang materi, pekerjaan maupun jabatan. Sukses tak melulu tentang dunia, yang semua orang seolah-olah berusaha mendapatkannya. Di luar itu semua, ada kesuksesan sejati yang hanya sebagian orang menyadarinya, sukses akhirat. Bagi mayoritas umat muslim di dunia, kesuksesan terbesarnya adalah menggapai ridho-Nya di surga kelak. Mencapai hal tersebut tentu juga bukan hal mudah, namun sifat Rahman dan Rahiim-Nya Allah membuat semuanya menjadi mudah. Seorang pemuda sebatang kara, miskin, tak memiliki apa-apa juga mempunyai cara tersendiri untuk menggapai ridho-Nya. Ia bisa tinggal di Masjid ataupun Musholla, berprofesi sebagai mu’adzin, membersihkan masjid, tentu ia memiliki kebahagiaan tersendiri melakukan itu semua. Mungkin ada beberapa komentar dari orang lain kalau ia hanya pemuda masjid yang pengangguran. Namun, terserah kata oranglah itu semua tidak berarti karena baginya kesuksesan dan kebahagiaan sejati terletak pada surga-Nya. Seorang penjual sayur, yang sehari-hari berkeliling dari desa ke desa untuk menjajakan dagangannya. Mungkin penghasilannya tidak seberapa, namun apabila hal tersebut bermanfaat bagi orang lain tentu ia merasakan kesuksesan tersendiri. Menghidupi keluarganya dengan hasil keringat sendiri, serta mengantarkan sayuran untuk makanan sehari-hari warga sekitar pasti adalah hal yang mungkin orang anggap biasa, karena hanya para pencari kebahagiaan sejatilah yang mengetahui bahwa orang tersebut sudah mencapai titik suksesnya.

Pada akhirnya kesuksesan adalah hal yang orang rasakan ketika ia bisa tersenyum bahagia karena telah mencapainya. Buat apa kekayaan berlimpah, mobil mewah, apabila orang yang memilikinya tak merasakan bahagia. Kesuksesan sejati adalah kebahagian yang didapat. Dan kesuksesan sejati harus kita gapai dengan keringat dan air mata. Tak dipungkiri kita harus mencapai kesuksesan di dunia, karena kita hidup di dalamnya. Namun kita juga tak boleh melupakan kebahagiaan hakiki yang harus kita gapai demi mendapat rahmat-Nya. Dan sungguh berbahagialah seseorang yang bisa mendapat keduanya. Dihormati dan dicintai di dunia, serta mendapat surga-Nya di akhirat kelak. Semoga kita termasuk di dalamnya.

*dimuat dalam antologi "Sukses Terbesar dalam Hidup" yang diterbitkan oleh Aria Mandiri Publisher

Hari ini satu dekade lalu, seluruh dunia dikejutkan dengan bencana besar pada saat itu. ya, hari ini adalah tepat sepuluh tahun tsunami Aceh terjadi. banyak yang telah menjadi kenangan. namun dari sanalah kita bisa memetik pelajaran. Tentang hidup, tentang alam, tentang sekitar kita dan tentang Sang Pengatur alam.

Minggu, 26 desember 2004.
Orang-orang menjalankan hari-hari seperti biasa, para pedagang berjualan di pasae, petani berangkat mengurusi kebun dan anak-anak bermain di lapangan. Pukul 07.30 WIB, terjadi peristiwa yang tidak biasa. Air di pesisir pantai surut sangat jauh ke tengah, meninggalkan ikan-ikan yang berada di pinggiran melompat-lompat berusaha mencari sumber kehidupan. Melihat banyak ikan yang menggelepar di pinggiran pantai, menarik minat sebagian warga dan anak-anak untuk memungutinya tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Namun, saat itulah musibah itu datang. Tak lama setelah fenomena surutnya air laut yang menjorok menjauhi pantai, air kembali dengan volume yang lebih besar membentuk gelombang raksasa yang siap membawa apa saja yang berada di hadapannya. Saat itulah baru masyarakat panik. Melihat gelombang yang begitu besarnya, semua berusaha melarikan diri melupakan segala harta benda, rumah dan seisinya. Namun, tak banyak yang bisa dilakukan. dalam waktu singkat, air sudah mencapai perumahan warga dengan tinggi melebihi 3 pohon kelapa. Menyapu bersih seluruh perkebunan, sawah, ternak dan pemukiman warga yang dilewatinya. Orang-orangpun hanyut terbawa arus yang begitu besar. Tsunami.

Gempa berkekuatan 9,2 skala richter yang berpusat di dasar Samudera Hindia menjadi pemicunya. Bagian barat Aceh yang terletak hanya 160 kilometer dari pusat gempa tersebut mengalami goncangan hebat dan gelombang tsunami. Gempa tersebut merupakan gempa terdahsyat dalam 40 tahun terakhir. Dalam waktu sekejap, seluruh kota Banda Aceh dan Meulaboh sudah ditutupi oleh gelombang raksasa tersebut. Tak terhitung berapa korban yang meninggal dalam peristiwa tersebut. Hingga hanya sedikit yang bisa bertahan selamat dari musibah tersebut. Seluruh penjuru Aceh juga mengalami gempa yang hebat. Kami yang berada di jarak yang cukup jauh dari pusat tsunami juga merasakan gempa yang dahsyat. Umurku baru sepuluh tahun saat itu dan masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, sehingga belum terlalu mengerti betapa dahsyatnya musibah yang sedang terjadi saat itu. Aku hanya merasakan bumi bergoncang begitu kerasnya, hingga merobohkan sebagian bangunan dari rumah warga. Seluruh warga berkumpul di tengah jalan, menjauhi rumah dan tiang listrik agar tidak tertimpa apabila rumah ambruk dan tiang listrik tumbang. 

Semua terjadi begitu cepat. Namun, kesedihan dan perasaan akan kehilangan sungguh lama membekas dan sulit untuk dilupakan. Tak hanya bagi mereka yang kehilangan keluarga dan sanak saudara saja, namun seluruh dunia seolah-olah ikut merasakan kepedihan yang diderita. Bantuan-bantuan datang dari seluruh Indonesia bahkan dari beberapa penjuru dunia juga ikut membantu. Isak tangis anak kecil yang kehilangan segalanya terdengar dimana-mana. Jenazah yang bahkan tidak bisa diidentifikasi identitasnya bertumpukan dengan jenazah lain di seluruh kota. Bahkan kapal dengan berat berton-tonpun ikut terangkat ke tengah kota. Tak terhitung berapa banyak jiwa yang terpukul karena kehilangan seluruh sanak saudara. Tak terhitung berapa tetes air mata yang jatuh dari setiap jiwa yang tersisa. Sejenak senyuman menghilang dari bumi serambi Mekkah ini.

Satu dasawarsa telah berlalu sejak peristiwa itu terjadi. Namun, perasaan akan kehilangan tetap membekas di setiap mereka yang merasakannya. Namun semua sudah mengikhlaskan semua menjadi kenangan yang tak akan pernah bisa dilupakan hingga akhir hayat. Kini Aceh memiliki wajah baru, wajah yang tersenyum lebih indah dari sebelumnya. Pembangunan di tempat yang mengalami musibah terus dilakukan. Hingga kini, Aceh tersenyum kembali. 

Banyak yang bisa kita ambil hikmahnya dari seluruh kejadian di sekitar kita. Tak hanya tsunami Aceh, letusan gunung Kelud di Jawa Timur, Banjir di Jawa Barat dan sekarang gunung Gamalama yang belum lama ini juga meletus. Semua memiliki arti tersendiri di baliknya. Kita selaku manusia hanya bisa memetik pelajaran dan berdo'a agar segala ujian ini terus berlalu. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari setiap kejadian. Salah satunya pelajaran bahwa hidup hanya sementara, semuanya hanyalah titipan yang mana akan diambil oleh Sang Pemilik di waktu yang tidak pernah kita duga. Juga pelajaran bahwa seluruh pergerakan di muka bumi ini diatur oleh Dzat Yang Maha Pengatur. Ujian juga diturunkan untuk mengingatkan kita, yang terlalu sibuk akan dunia hingga melupakan-Nya. Mengingatkan kita yang terlalu lalai akan hakikat kita berada di dunia ini.

Banyak cara Tuhan mengingatkan hamba-Nya, melalui ujian adalah salah satunya. Akankah kita baru bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah mendapat beberapa teguran dari-Nya? Atau kita mengambil pelajaran dari ujian yang telah terjadi? Kembali kepada hati nurani masing-masing. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mengambil hikmah dari setiap ujian-Nya. Aamiin.

Beberapa gambar dokumentasi yang diambil tepat setelah tsunami terjadi dan sekarang.










Sumber gambar : http://versesofuniverse.blogspot.com/2014/12/aceh-10-tahun-setelah-tsunami-26.html

Malam semua. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya. Baru saja saya menyaksikan sebuah program tv di salah satu stasiun tv di Indonesia, yaitu Mata Najwa. Beberapa minggu kemarin, mata najwa and crew mengunjungi kampung halamanku, meskipun hanya di ibukota provinsi aja sih. Acara mata najwa kali ini bertemakan dari Aceh untuk Indonesia, yang diadakan di universitas negeri Syiah Kuala, Banda Aceh. Acara yang bagus dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari program tersebut.  Berikut beberapa ilmu yang kutangkap dari acara tadi.

Pertama dari Pak Dahlan Iskan selaku menteri BUMN. Bahwa sebenarnya dalam hidup, kita membutuhkan rasa sakit hati. Mengapa? Ya, mungkin dari rasa sakit hati itulah kita bisa berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pengalaman beliau ketika pertama kali mengurusi jawa pos, beliau menyatakan bahwa pada saat itu jawa pos masih kecil dan tidak terkenal. Bahkan pada saat itu ketika orang bertanya dimana kantor jawa pos? Banyak yang menjawab "o, itu kantor yang di depan rumah pak Karman". Pada saat itu pak Karman yang notabene masyarakat biasa, lebih dikenal daripada jawa pos.  Pak Dahlan bilang nanti jawa pos akan lebih terkenal di masyarakat, biar nanti orang balik nanya "dimana ya, rumah pak Karman?" "o, yang di depan jawa pos". Simpel mungkin, namun tentunya rasa sakit hati yang mendorong ke arah positif yang diperlukan. Kedua dari beliau, bahwa motivasi itu berbeda-beda tergantung situasi nya. Motivasi sewaktu kecil beda dengan ketika mulai membuka usaha. Ketika usahanya lebih besar lagi, motivasinya beda lagi. Dan biasanya motivasi itu datang dari tempat yang tidak diduga-duga, kebanyakan ketika kita dalam kondisi kepepet atau terpojok. Nah, kita emang butuh motivasi kapan saja, dan motivasi bisa berasal dari diri kita sendiri dan orang lain. Tentunya motivasi dibutuhkan agar kita lebih semangat dalam melakukan sesuatu.

Kedua dari bu Susi, sang menteri kelautan dan perikanan yang pernah menjadi perbincangan hangat di sosial media. Mungkin salah satu alasannya adalah karena pendidikan beliau yang bahkan tidak lulus Sma. Namun bagiku itu semua tidak masalah, selama kinerjanya bagus dan tidak menimbulkan masalah. Bukankah banyak juga di luar sana orang-orang yang sukses meskipun tidak sempat mengecap bangku sekolah. Pun demikian,  beliau menekankan bahwa pendidikan emang hal yang harus diutamakan. Apabila kau tidak sekolah, kau harus bekerja tiga kali lebih keras daripada orang yang bersekolah, begitulah tutur beliau. Namun, pelajaran tak hanya bisa dinikmati di bangku sekolah saja. Banyak pelajaran berharga yang bisa kita kutip dari kehidupan. Pesannya juga buat para sarjana agar bisa lebih baik dan bersama-sama membangun negri. Masak kalian yang sarjana kalah dari yang tidak lulus Sma, ungkap beliau. Pelajaran emang bisa didapat bahkan harus dipelajari dimana saja berada, namun apabila masih diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di sekolah maupun di bangku kuliah, ya disyukuri dan diniatkan untuk bisa lebih baik lagi.

Terakhir dari bang Tompi, penyanyi yang ternyata asli Lhokseumawe. Dia bercerita tentang pengalamannya ketika sekolah di Sma Modal Bangsa (Mosa), sma favorit yang selalu banyak peminat di tiap tahunnya pada saat ini. Dia bersama teman-teman yang berjumlah sepuluh orang selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Bahkan merelakan jam tidur mereka, mereka hanya tidur empat jam tiap harinya.  Dan ketika lulus dengan nilai terbaik, beliau merasa hebat. Bahkan ketika try out di provinsi pun selalu berada di posisi lima besar. Dengan modal itulah dia berniat untuk menaklukkan jawa. Alasannya juga karena sistem pendidikan di Aceh pada saat itu masih kalah jauh dari pulau Jawa. Akhirnya dia lulus umptn jurusan pendidikan dokter di universitas indonesia, namun hampir tidak berangkat karena tidak memiliki biaya. Namun, ibunya bersikeras agar bang Tompi berangkat. Sesampainya di jawa, baru terasa bahwa pendidikan di tempat kami jauuh sekali tertinggal daripada di sini. Mungkin itu juga yang aku rasakan, mungkin juga perasaan ini juga dirasakan oleh semua perantau dari daerah kami. Kami seperti katak dalam tempurung yang berusaha keluar untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Akhirnya beliau berhasil lulus dengan nilai terbaik di bidang bedah plastik se-Indonesia dan sekarang dia sukses di dunia musiknya. Semoga kami semua para pemuda pemudi Aceh / Gayo bisa sukses juga dan bisa memajukan pendidikan di daerah kami.

Sebenarnya masih ada satu bintang tamu lagi yang diundang yaitu pak Faisal Basri . Namun karena saya tidak mengikuti sejak awal jadi mungkin akan saya tambahkan di lain kesempatan.

Sungguh menginspirasi. Semoga acara ini terus berlanjut agar banyak yang bisa mengambil pelajaran darinya.
Salam :)


Desember hampir berakhir, sudahkah semua target tahun ini tercapai?
Beberapa hari kemarin baru dapat kunjungan oleh ayah, kebetulan beliau lagi ada tugas mengantarkan kelompok kerjanya untuk mengikuti kegiatan pelatihan tentang peternakan di Songgoriti, Batu, Malang. Alhamdulillah beliau menyempatkan diri untuk singgah mengunjungi anaknya di Surabaya ini.

Seperti kebiasaan di pesantren dulu, kalo sudah dikunjungi pasti dapat semangat baru, dapat suntikan motivasi yang membuat diri untuk belajar lebih baik lagi, agar menjadi orang yang berguna bagi semuanya. Menerima kabar baru tentang keluarga dan tempat tinggal secara langsung, sedikit berbeda rasanya dengan menerima kabar melalui telpon. Alhamdulillah semua baik-baik saja dan banyak kabar baik lainnya yang disampaikan. Seperti Ifa (adik pertama) yang semakin semangat belajarnya, bahkan sudah bisa menabung sendiri untuk beli tablet baru, Alhamdulillah. Juga si bungsu Nisa yang sudah beranjak naik kelas 5 dan sudah diwisuda di TPA. Hmm, jadi merindukan mereka berdua. Juga ibu yang lagi sibuk ngurusin rapor anak-anak muridnya di sekolah, semoga Allah selalu memberi kemudahan Aamiin.

Sedikit motivasi juga dari ayah tentang menulis, jadi bingung juga ketika ditanya blognya kok gak pernah diisi lagi? Padahal ibu selalu baca kalo ada tulisan baru disana. Ayah juga cerita kalo beberapa tulisannya tentang pertanian sudah dimuat di beberapa surat kabar di kabupaten lain, bahkan sudah diminta untuk menjadi penulis tetap yang tiap beberapa bulan sekali diminta menulis lagi sesuai dengan temanya. Hmm, aku jadi malu. Bahkan di tengah kesibukannya bekerja, beliau masih sempat menulis.

Akhirnya, seolah mendapat pukulan keras seperti waktu kecil kalau lagi malas ngaji, namun dengan kondisi yang berbeda. Bayanganku di cermin seolah-olah menantang, ayo mana tulisannya? Blognya kok gak pernah diisi? Gak sempat? Alaah itu alasan klasik boy. Tak perlu mencari waktu luang untuk menulis, namun sediakan waktumu untuk itu. Tak peduli orang menganggap tulisan itu curhatlah, inilah, itulah dan lain sebagainya. Menulis bukan semata - mata agar dibilang bagus oleh orang lain, menulislah! Untuk berbagi pengalaman, cerita, informasi dan lain lain. Meskipun tulisanmu kamu anggap jelek, atau sebagian orang menganggapnya demikian, percayalah entah di belahan bumi bagian mana, pasti ada seseorang yang tersenyum membaca tulisanmu.

Teruslah menulis agar dunia mengenal dirimu. Salam.


Ingatkah kau hai anak muda? Hari apa hari ini? Jika kau terlalu sibuk dengan duniamu, sempatkanlah hari ini untuk mencium tangan ibumu sebelum berangkat kuliah. Ucapkan salam padanya, katakan bahwa kau menyayanginya lebih dari apapun di dunia. Buat kau yang jarang di rumah karena faktor pekerjaan, sempatkanlah untuk pulang meski sekedar untuk membuatkan teh manis dan menemani beliau ngobrol sejenak. Dan jika kau berada ribuan kilometer dari rumah dan tak memungkinkan untuk pulang, sediakanlah sedikit waktu untuk menelpon beliau. Sekedar untuk menanyakan kabar dan obrolan ringan antara ibu dan anak.

Ibu, wanita terhebat dalam hidup. Mereka yang rela berkorban demi anak-anaknya. Mereka yang mempertaruhkan nyawanya untuk membawa kita ke dunia. Mereka yang bersusah payah membawa kita kemanapun selama 9 bulan kita di kandungan. Merekalah wanita terhebat.

Ibu, wanita terbaik yang pernah ada. Bahkan setelah proses antara hidup dan mati ketika melahirkan kita, beliau tetap tersenyum melihat kita yang menangis ketika tiba di dunia seraya berdo'a , semoga kelak kita akan menjadi anak yang berguna dan sukses dunia dan akhirat. Membimbing dan mendidik kita untuk menjadi pribadi yang baik. Mengorbankan malamnya untuk sekedar menenangkan kita yang menangis. Merelakan dirinya lapar melihat kita ingin makan makanannya. Karena bagi mereka kita adalah anugerah terindah yang dititipkan Allah pada mereka. Merekalah yang terbaik.

Banyak hadits Rasulullah yang memuliakan seorang ibu. Bahkan tidak tanggung - tanggung, surga yang notabene merupakan tempat terindah yang dijanjikan Allah kepada mereka yang pantas mendapatkannya, berada di bawah telapak kaki seorang ibu. Betapa Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk selalu memuliakan ibu kita.

Ibu, berapa banyakpun kami berusaha, itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan perjuangan dan pengorbanan engkau. Namun, izinkan dan do'akan kami agar senantiasa menjadi anak yang berbakti.
Ibu, seberapa besarpun kami berbuat salah, engkau selalu memiliki pintu maaf yang lebih besar lagi.
Ibu, mungkin sekarang kami hanya bisa mendo'akan engkau usai sholat kami. Namun yakinlah, kami akan menjadi anak yang sukses dan membanggakanmu. Bahkan mungkin ketika kami telah berkeluargapun, rasa ingin membahagiakanmu tak akan pernah hilang, masih sama seperti sekarang.

Ibu, terimakasih untuk segala kebahagiaan yang telah kau beri. Semoga senantiasa bisa menjadi motivasi dan semangat kami dalam menjalani hari. Terimakasih yang tak terhingga untuk cinta kasih yang selalu kau sampaikan. Semoga selalu bisa menjadikan kami orang yang merasa hidup dan selalu menyayangi sesama. Terimakasih tak terbatas untuk semuanya.

Terimakasih Ibu. Selamat Hari Ibu :) 

Malam tak selamanya gelap gulita
Bintang dan rembulan jadi pelitanya
Begitupun siang, tak selamanya bersinar
Kadang mendung hiasi langitnya

Segala sesuatu pasti ada hikmahnya
Tiada yang luput dari pengawasanNya
Semut yang berjabat tangan
Hingga ombak yang berdebur
Semuanya sudah ada aturannya

Jangan sekali bimbang
Atau bahkan mengeluh
Hanya karena tak sesuai rencana

Semua pasti ada hikmahnya
Tinggal bagaimana jalan  menghadapinya

Semangat, kerja keras, disiplin, pantang menyerah, persahabatan, percaya, kebersamaan
Speed, Tactic, Power