Refleksi Satu Dekade Tsunami Aceh

Hari ini satu dekade lalu, seluruh dunia dikejutkan dengan bencana besar pada saat itu. ya, hari ini adalah tepat sepuluh tahun tsunami Aceh terjadi. banyak yang telah menjadi kenangan. namun dari sanalah kita bisa memetik pelajaran. Tentang hidup, tentang alam, tentang sekitar kita dan tentang Sang Pengatur alam.

Minggu, 26 desember 2004.
Orang-orang menjalankan hari-hari seperti biasa, para pedagang berjualan di pasae, petani berangkat mengurusi kebun dan anak-anak bermain di lapangan. Pukul 07.30 WIB, terjadi peristiwa yang tidak biasa. Air di pesisir pantai surut sangat jauh ke tengah, meninggalkan ikan-ikan yang berada di pinggiran melompat-lompat berusaha mencari sumber kehidupan. Melihat banyak ikan yang menggelepar di pinggiran pantai, menarik minat sebagian warga dan anak-anak untuk memungutinya tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Namun, saat itulah musibah itu datang. Tak lama setelah fenomena surutnya air laut yang menjorok menjauhi pantai, air kembali dengan volume yang lebih besar membentuk gelombang raksasa yang siap membawa apa saja yang berada di hadapannya. Saat itulah baru masyarakat panik. Melihat gelombang yang begitu besarnya, semua berusaha melarikan diri melupakan segala harta benda, rumah dan seisinya. Namun, tak banyak yang bisa dilakukan. dalam waktu singkat, air sudah mencapai perumahan warga dengan tinggi melebihi 3 pohon kelapa. Menyapu bersih seluruh perkebunan, sawah, ternak dan pemukiman warga yang dilewatinya. Orang-orangpun hanyut terbawa arus yang begitu besar. Tsunami.

Gempa berkekuatan 9,2 skala richter yang berpusat di dasar Samudera Hindia menjadi pemicunya. Bagian barat Aceh yang terletak hanya 160 kilometer dari pusat gempa tersebut mengalami goncangan hebat dan gelombang tsunami. Gempa tersebut merupakan gempa terdahsyat dalam 40 tahun terakhir. Dalam waktu sekejap, seluruh kota Banda Aceh dan Meulaboh sudah ditutupi oleh gelombang raksasa tersebut. Tak terhitung berapa korban yang meninggal dalam peristiwa tersebut. Hingga hanya sedikit yang bisa bertahan selamat dari musibah tersebut. Seluruh penjuru Aceh juga mengalami gempa yang hebat. Kami yang berada di jarak yang cukup jauh dari pusat tsunami juga merasakan gempa yang dahsyat. Umurku baru sepuluh tahun saat itu dan masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, sehingga belum terlalu mengerti betapa dahsyatnya musibah yang sedang terjadi saat itu. Aku hanya merasakan bumi bergoncang begitu kerasnya, hingga merobohkan sebagian bangunan dari rumah warga. Seluruh warga berkumpul di tengah jalan, menjauhi rumah dan tiang listrik agar tidak tertimpa apabila rumah ambruk dan tiang listrik tumbang. 

Semua terjadi begitu cepat. Namun, kesedihan dan perasaan akan kehilangan sungguh lama membekas dan sulit untuk dilupakan. Tak hanya bagi mereka yang kehilangan keluarga dan sanak saudara saja, namun seluruh dunia seolah-olah ikut merasakan kepedihan yang diderita. Bantuan-bantuan datang dari seluruh Indonesia bahkan dari beberapa penjuru dunia juga ikut membantu. Isak tangis anak kecil yang kehilangan segalanya terdengar dimana-mana. Jenazah yang bahkan tidak bisa diidentifikasi identitasnya bertumpukan dengan jenazah lain di seluruh kota. Bahkan kapal dengan berat berton-tonpun ikut terangkat ke tengah kota. Tak terhitung berapa banyak jiwa yang terpukul karena kehilangan seluruh sanak saudara. Tak terhitung berapa tetes air mata yang jatuh dari setiap jiwa yang tersisa. Sejenak senyuman menghilang dari bumi serambi Mekkah ini.

Satu dasawarsa telah berlalu sejak peristiwa itu terjadi. Namun, perasaan akan kehilangan tetap membekas di setiap mereka yang merasakannya. Namun semua sudah mengikhlaskan semua menjadi kenangan yang tak akan pernah bisa dilupakan hingga akhir hayat. Kini Aceh memiliki wajah baru, wajah yang tersenyum lebih indah dari sebelumnya. Pembangunan di tempat yang mengalami musibah terus dilakukan. Hingga kini, Aceh tersenyum kembali. 

Banyak yang bisa kita ambil hikmahnya dari seluruh kejadian di sekitar kita. Tak hanya tsunami Aceh, letusan gunung Kelud di Jawa Timur, Banjir di Jawa Barat dan sekarang gunung Gamalama yang belum lama ini juga meletus. Semua memiliki arti tersendiri di baliknya. Kita selaku manusia hanya bisa memetik pelajaran dan berdo'a agar segala ujian ini terus berlalu. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari setiap kejadian. Salah satunya pelajaran bahwa hidup hanya sementara, semuanya hanyalah titipan yang mana akan diambil oleh Sang Pemilik di waktu yang tidak pernah kita duga. Juga pelajaran bahwa seluruh pergerakan di muka bumi ini diatur oleh Dzat Yang Maha Pengatur. Ujian juga diturunkan untuk mengingatkan kita, yang terlalu sibuk akan dunia hingga melupakan-Nya. Mengingatkan kita yang terlalu lalai akan hakikat kita berada di dunia ini.

Banyak cara Tuhan mengingatkan hamba-Nya, melalui ujian adalah salah satunya. Akankah kita baru bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah mendapat beberapa teguran dari-Nya? Atau kita mengambil pelajaran dari ujian yang telah terjadi? Kembali kepada hati nurani masing-masing. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mengambil hikmah dari setiap ujian-Nya. Aamiin.

Beberapa gambar dokumentasi yang diambil tepat setelah tsunami terjadi dan sekarang.










Sumber gambar : http://versesofuniverse.blogspot.com/2014/12/aceh-10-tahun-setelah-tsunami-26.html

Mata Najwa: Dari Aceh untuk Indonesia


Malam semua. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya. Baru saja saya menyaksikan sebuah program tv di salah satu stasiun tv di Indonesia, yaitu Mata Najwa. Beberapa minggu kemarin, mata najwa and crew mengunjungi kampung halamanku, meskipun hanya di ibukota provinsi aja sih. Acara mata najwa kali ini bertemakan dari Aceh untuk Indonesia, yang diadakan di universitas negeri Syiah Kuala, Banda Aceh. Acara yang bagus dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari program tersebut.  Berikut beberapa ilmu yang kutangkap dari acara tadi.

Pertama dari Pak Dahlan Iskan selaku menteri BUMN. Bahwa sebenarnya dalam hidup, kita membutuhkan rasa sakit hati. Mengapa? Ya, mungkin dari rasa sakit hati itulah kita bisa berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pengalaman beliau ketika pertama kali mengurusi jawa pos, beliau menyatakan bahwa pada saat itu jawa pos masih kecil dan tidak terkenal. Bahkan pada saat itu ketika orang bertanya dimana kantor jawa pos? Banyak yang menjawab "o, itu kantor yang di depan rumah pak Karman". Pada saat itu pak Karman yang notabene masyarakat biasa, lebih dikenal daripada jawa pos.  Pak Dahlan bilang nanti jawa pos akan lebih terkenal di masyarakat, biar nanti orang balik nanya "dimana ya, rumah pak Karman?" "o, yang di depan jawa pos". Simpel mungkin, namun tentunya rasa sakit hati yang mendorong ke arah positif yang diperlukan. Kedua dari beliau, bahwa motivasi itu berbeda-beda tergantung situasi nya. Motivasi sewaktu kecil beda dengan ketika mulai membuka usaha. Ketika usahanya lebih besar lagi, motivasinya beda lagi. Dan biasanya motivasi itu datang dari tempat yang tidak diduga-duga, kebanyakan ketika kita dalam kondisi kepepet atau terpojok. Nah, kita emang butuh motivasi kapan saja, dan motivasi bisa berasal dari diri kita sendiri dan orang lain. Tentunya motivasi dibutuhkan agar kita lebih semangat dalam melakukan sesuatu.

Kedua dari bu Susi, sang menteri kelautan dan perikanan yang pernah menjadi perbincangan hangat di sosial media. Mungkin salah satu alasannya adalah karena pendidikan beliau yang bahkan tidak lulus Sma. Namun bagiku itu semua tidak masalah, selama kinerjanya bagus dan tidak menimbulkan masalah. Bukankah banyak juga di luar sana orang-orang yang sukses meskipun tidak sempat mengecap bangku sekolah. Pun demikian,  beliau menekankan bahwa pendidikan emang hal yang harus diutamakan. Apabila kau tidak sekolah, kau harus bekerja tiga kali lebih keras daripada orang yang bersekolah, begitulah tutur beliau. Namun, pelajaran tak hanya bisa dinikmati di bangku sekolah saja. Banyak pelajaran berharga yang bisa kita kutip dari kehidupan. Pesannya juga buat para sarjana agar bisa lebih baik dan bersama-sama membangun negri. Masak kalian yang sarjana kalah dari yang tidak lulus Sma, ungkap beliau. Pelajaran emang bisa didapat bahkan harus dipelajari dimana saja berada, namun apabila masih diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di sekolah maupun di bangku kuliah, ya disyukuri dan diniatkan untuk bisa lebih baik lagi.

Terakhir dari bang Tompi, penyanyi yang ternyata asli Lhokseumawe. Dia bercerita tentang pengalamannya ketika sekolah di Sma Modal Bangsa (Mosa), sma favorit yang selalu banyak peminat di tiap tahunnya pada saat ini. Dia bersama teman-teman yang berjumlah sepuluh orang selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Bahkan merelakan jam tidur mereka, mereka hanya tidur empat jam tiap harinya.  Dan ketika lulus dengan nilai terbaik, beliau merasa hebat. Bahkan ketika try out di provinsi pun selalu berada di posisi lima besar. Dengan modal itulah dia berniat untuk menaklukkan jawa. Alasannya juga karena sistem pendidikan di Aceh pada saat itu masih kalah jauh dari pulau Jawa. Akhirnya dia lulus umptn jurusan pendidikan dokter di universitas indonesia, namun hampir tidak berangkat karena tidak memiliki biaya. Namun, ibunya bersikeras agar bang Tompi berangkat. Sesampainya di jawa, baru terasa bahwa pendidikan di tempat kami jauuh sekali tertinggal daripada di sini. Mungkin itu juga yang aku rasakan, mungkin juga perasaan ini juga dirasakan oleh semua perantau dari daerah kami. Kami seperti katak dalam tempurung yang berusaha keluar untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Akhirnya beliau berhasil lulus dengan nilai terbaik di bidang bedah plastik se-Indonesia dan sekarang dia sukses di dunia musiknya. Semoga kami semua para pemuda pemudi Aceh / Gayo bisa sukses juga dan bisa memajukan pendidikan di daerah kami.

Sebenarnya masih ada satu bintang tamu lagi yang diundang yaitu pak Faisal Basri . Namun karena saya tidak mengikuti sejak awal jadi mungkin akan saya tambahkan di lain kesempatan.

Sungguh menginspirasi. Semoga acara ini terus berlanjut agar banyak yang bisa mengambil pelajaran darinya.
Salam :)


Suntikan Akhir Tahun

Desember hampir berakhir, sudahkah semua target tahun ini tercapai?
Beberapa hari kemarin baru dapat kunjungan oleh ayah, kebetulan beliau lagi ada tugas mengantarkan kelompok kerjanya untuk mengikuti kegiatan pelatihan tentang peternakan di Songgoriti, Batu, Malang. Alhamdulillah beliau menyempatkan diri untuk singgah mengunjungi anaknya di Surabaya ini.

Seperti kebiasaan di pesantren dulu, kalo sudah dikunjungi pasti dapat semangat baru, dapat suntikan motivasi yang membuat diri untuk belajar lebih baik lagi, agar menjadi orang yang berguna bagi semuanya. Menerima kabar baru tentang keluarga dan tempat tinggal secara langsung, sedikit berbeda rasanya dengan menerima kabar melalui telpon. Alhamdulillah semua baik-baik saja dan banyak kabar baik lainnya yang disampaikan. Seperti Ifa (adik pertama) yang semakin semangat belajarnya, bahkan sudah bisa menabung sendiri untuk beli tablet baru, Alhamdulillah. Juga si bungsu Nisa yang sudah beranjak naik kelas 5 dan sudah diwisuda di TPA. Hmm, jadi merindukan mereka berdua. Juga ibu yang lagi sibuk ngurusin rapor anak-anak muridnya di sekolah, semoga Allah selalu memberi kemudahan Aamiin.

Sedikit motivasi juga dari ayah tentang menulis, jadi bingung juga ketika ditanya blognya kok gak pernah diisi lagi? Padahal ibu selalu baca kalo ada tulisan baru disana. Ayah juga cerita kalo beberapa tulisannya tentang pertanian sudah dimuat di beberapa surat kabar di kabupaten lain, bahkan sudah diminta untuk menjadi penulis tetap yang tiap beberapa bulan sekali diminta menulis lagi sesuai dengan temanya. Hmm, aku jadi malu. Bahkan di tengah kesibukannya bekerja, beliau masih sempat menulis.

Akhirnya, seolah mendapat pukulan keras seperti waktu kecil kalau lagi malas ngaji, namun dengan kondisi yang berbeda. Bayanganku di cermin seolah-olah menantang, ayo mana tulisannya? Blognya kok gak pernah diisi? Gak sempat? Alaah itu alasan klasik boy. Tak perlu mencari waktu luang untuk menulis, namun sediakan waktumu untuk itu. Tak peduli orang menganggap tulisan itu curhatlah, inilah, itulah dan lain sebagainya. Menulis bukan semata - mata agar dibilang bagus oleh orang lain, menulislah! Untuk berbagi pengalaman, cerita, informasi dan lain lain. Meskipun tulisanmu kamu anggap jelek, atau sebagian orang menganggapnya demikian, percayalah entah di belahan bumi bagian mana, pasti ada seseorang yang tersenyum membaca tulisanmu.

Teruslah menulis agar dunia mengenal dirimu. Salam.

Salam rindu buat Ibu


Ingatkah kau hai anak muda? Hari apa hari ini? Jika kau terlalu sibuk dengan duniamu, sempatkanlah hari ini untuk mencium tangan ibumu sebelum berangkat kuliah. Ucapkan salam padanya, katakan bahwa kau menyayanginya lebih dari apapun di dunia. Buat kau yang jarang di rumah karena faktor pekerjaan, sempatkanlah untuk pulang meski sekedar untuk membuatkan teh manis dan menemani beliau ngobrol sejenak. Dan jika kau berada ribuan kilometer dari rumah dan tak memungkinkan untuk pulang, sediakanlah sedikit waktu untuk menelpon beliau. Sekedar untuk menanyakan kabar dan obrolan ringan antara ibu dan anak.

Ibu, wanita terhebat dalam hidup. Mereka yang rela berkorban demi anak-anaknya. Mereka yang mempertaruhkan nyawanya untuk membawa kita ke dunia. Mereka yang bersusah payah membawa kita kemanapun selama 9 bulan kita di kandungan. Merekalah wanita terhebat.

Ibu, wanita terbaik yang pernah ada. Bahkan setelah proses antara hidup dan mati ketika melahirkan kita, beliau tetap tersenyum melihat kita yang menangis ketika tiba di dunia seraya berdo'a , semoga kelak kita akan menjadi anak yang berguna dan sukses dunia dan akhirat. Membimbing dan mendidik kita untuk menjadi pribadi yang baik. Mengorbankan malamnya untuk sekedar menenangkan kita yang menangis. Merelakan dirinya lapar melihat kita ingin makan makanannya. Karena bagi mereka kita adalah anugerah terindah yang dititipkan Allah pada mereka. Merekalah yang terbaik.

Banyak hadits Rasulullah yang memuliakan seorang ibu. Bahkan tidak tanggung - tanggung, surga yang notabene merupakan tempat terindah yang dijanjikan Allah kepada mereka yang pantas mendapatkannya, berada di bawah telapak kaki seorang ibu. Betapa Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk selalu memuliakan ibu kita.

Ibu, berapa banyakpun kami berusaha, itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan perjuangan dan pengorbanan engkau. Namun, izinkan dan do'akan kami agar senantiasa menjadi anak yang berbakti.
Ibu, seberapa besarpun kami berbuat salah, engkau selalu memiliki pintu maaf yang lebih besar lagi.
Ibu, mungkin sekarang kami hanya bisa mendo'akan engkau usai sholat kami. Namun yakinlah, kami akan menjadi anak yang sukses dan membanggakanmu. Bahkan mungkin ketika kami telah berkeluargapun, rasa ingin membahagiakanmu tak akan pernah hilang, masih sama seperti sekarang.

Ibu, terimakasih untuk segala kebahagiaan yang telah kau beri. Semoga senantiasa bisa menjadi motivasi dan semangat kami dalam menjalani hari. Terimakasih yang tak terhingga untuk cinta kasih yang selalu kau sampaikan. Semoga selalu bisa menjadikan kami orang yang merasa hidup dan selalu menyayangi sesama. Terimakasih tak terbatas untuk semuanya.

Terimakasih Ibu. Selamat Hari Ibu :) 

Semua ada hikmahnya

Malam tak selamanya gelap gulita
Bintang dan rembulan jadi pelitanya
Begitupun siang, tak selamanya bersinar
Kadang mendung hiasi langitnya

Segala sesuatu pasti ada hikmahnya
Tiada yang luput dari pengawasanNya
Semut yang berjabat tangan
Hingga ombak yang berdebur
Semuanya sudah ada aturannya

Jangan sekali bimbang
Atau bahkan mengeluh
Hanya karena tak sesuai rencana

Semua pasti ada hikmahnya
Tinggal bagaimana jalan  menghadapinya

-

Semangat, kerja keras, disiplin, pantang menyerah, persahabatan, percaya, kebersamaan
Speed, Tactic, Power

Ibu

Oh Ibu
Senyummu menjadi semangatku
Do'amu selalu iringi langkahku
Pesanmu akan ku ingat selalu
Tuk menjadi anak yang berguna
Bagimu dan sekelilingku

Oh Ibu
Menyayangiku sepanjang waktu
Tak kenal lelah dan tak pernah mengeluh
Mendidikku hingga ku dewasa
Kini waktuku tuk abdikan diriku
Semuanya untukmu Ibu

Jika ku bisa
Melukis di atas langit
Pasti kan dirimu yang tertulis di sana

Jika ditanya
Siapa yang terhebat
Pasti kan ku jawab itu dirimu

Do'akan selalu anakmu disini
Yang tengah merantau
Untuk membahagiakanmu

Do'aku pun selalu
Ku lantunkan untukmu
Dan terima kasihku
Untukmu Ibu

Ruang untuk pulang

Bedug subuh telah berbunyi
Fajar menyingsing diiringi sahutan ayam
Para perantau mulai beranjak

Tinggalkan tanah kelahiran
Bukan suatu yang mudah
Namun panggilan hati dan semangat diri
Serta teman sejati
Yang membuat kami bertahan disini

Selalu ada ruang untuk pulang
Meski bukan ke rumah sendiri
Rumah memang tidak terganti
Namun rindu ini bisa terobati

Tak selalu tempat pulang itu rumah
Selama kau punya teman
Yang menerimamu apa adanya
Selama itu pula
Kau punya tempat untuk kembali

Hingga mentari tersenyum padaku lagi

Mendung mengepung
Hingga tak terlihat senyumnya mentari
Yang biasa sambut ku
Lalui hari cerahku

Kicauan burungpun tak terdengar
Seolah semua menghilang
Tinggalkanku dalam kesunyian ini
Sepi . . .

Dan bayangan tentang kalian pun hadir
Menari-nari di alam khayalku
Berputar-putar kelilingi ruang pikirku
Sadarkanku
Bahwa ku tak pernah benar-benar sendirian

Raih tanganku sobat
Ku tau ku bisa lalui semua ini
Bersama kalian

Tetap genggang erat tanganku
Temani ku tuk hadapi hidup ini
Hingga mentari tersenyum padaku lagi

Sisi kehidupan

Gemuruh petir mulai bersorakan
Menyambar setiap awan yang kian menitikkan air mata
Mengubah langit menjadi kelam

Tak ada cahaya yang bersinar
Tak terdengar sapaan dari burung yang biasa berkicau
Yang ada hanya angin riuh yang menambah ketakutan jiwa

Mereka berubah
Bukan karena angin yang berhembus
Bukan karena mentari yang mulai terbenam
Namun karena sebuah pilihan

Waktunya nanti akan tiba
Saat semua bertemu di ujung jalan
Yang memisahkan kebaikan dan keburukan
Dan hanya hati nuranilah yang dapat menentukannya

Lyric by DLS

Pertandingan Kehidupan

Kalah dan menang dalam sebuah pertandingan itu sudah biasa. Perasaan senang dan bahagia tentu dirasakan oleh tim yang menang, serta tak dapat dipungkiri bahwa kecewa dan sedih kadang tersirat pada tim yang dikalahkan. Namun, di luar kedua hal tersebut, masih banyak hal yang dapat kita ambil dari suatu pertandingan tersebut.

1. Kalah-menang
Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwasanya dalam setiap pertandingan tentunya tak luput dari kedua hal tersebut. Jika dianalogikan ke kehidupan, anggap saja saat kita menang kita sedang berada di atas. Layaknya suatu pepatah yang menyebutkan bahwa kehidupan ibarat roda, kadang di atas kadang pula di bawah. Ketika kita sedang di bawah (kalah), tak usah terlalu berkecil hati karena roda pasti berputar. Mungkin hari ini kalah, siapa tau besok kita yang menang. Semua sudah diatur.

2.bersyukur vs berbangga
Masih mengenai menang-kalah, yang diibaratkan bak roda kehidupan. Ketika kita sedang dalam posisi menang, kita tak boleh sombong dan takabur. Karena di luar sana masih banyak yang lebih kuat dan tangguh. Senang wajar, asalkan tidak berlebihan. intinya jangan berbangga hanya karena menang sekali dalam suatu pertandingan. Tetap rendah hati dan stay cool. Begitu pula ketika kalah, jangan sedih berlebihan. Karena dengan begitu kita bisa merasakan posisi orang-orang yang di bawah. Di dalam kehidupan, apabila kita sedang berada di bawah, kita diajarkan untuk bersyukur. Bahwa (mungkin) di luar sana masih banyak yang lebih tidak beruntung dari kita.

3. Semangat-kerja keras-friendship
Usaha sekecil apapun pasti akan berdampak. Individu maupu tim yang senantiasa bekerja keras, berlatih siang dan malam, tentunya akan mendapat hasil yang berbeda dengan tim yang masuk kategori newbie dan jarang latihan. Teamwork juga penting dalam sebuah permainan karena kerja sama tim yang baik akan berdampak pada kesuksesan. Jika ketiga hal tersebut sudah dilakukan namun tetap belum berhasil, maka jangan berkecil hati. Selalu ada hikmah di setiap cobaan, selalu ada tangisan di setiap pertandingan. Usaha sebuah tim untuk mencapai kemenangan, jauh lebih penting dari kemenangan itu.

#terima kasih atas kerja sama dan kerja kerasnya, perjalanan kita masih panjang.
#chemistryUA11

Jamrud Khatulistiwa

Ku hirup aroma segar embun pagi
Perjalanan di mulai...

Tugu nol kota Sabang, awal ku berpijak
Lanjutkan pendakian dan nikmati indahnya kawah Ijen

Tak lelah ku selami laut Kalimantan
Dan bermalam di pulau dewata

Kunjungi satwa-satwa di belahan Sulawesi
Kututup perjalanan ini di Jaya Wijaya

Indahnya alam negeriku ini
Kita yang harus menjaganya
Jangan biarkan nafsu duniawi
Menodai indahnya alam kita

Kata orang semua ini, serpihan tanah Surga
Yang tersebar di seluruh nusantara
Titipan Tuhan untuk kita semua
Jaga dan lestarikan untuk penerus kita

“Selalu ada pelajaran di setiap perjalanan”

            Long weekend masuk kategori waktu yang pas buat liburan. Sekedar untuk refreshing dari aktivitas harian yang tiada habisnya. Biasanya buat mahasiswa yang merindukan rumah memanfaatkan long weekend ini untuk pulang kampung, bertemu dengan keluarga dan menikmati masakan rumah yang lama tidak dirasakan. Namun, bagi mahasiswa-mahasiswa yang memiliki jiwa petualang, biasanya menghabiskan waktu untuk liburan bersama. Entah itu ke puncak, pantai, dan lain sebagainya. Hitung-hitung sebagai pengganti kangen bagi yang ga bisa pulang.

            Tentunya kita selaku traveler yang bijak, gak mau dong pelajaran kita hanya menyisakan lelah saja. Kita juga harus mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut, karena sejatinya “Selalu ada pelajaran, di setiap perjalanan”. nah, harapannya tentu untuk membuat kita menjadi sosok yang lebih baik lagi. Untuk itu, penulis ingin membagikan sedikit pelajaran yang ia dapat selama perjalanan singkat bersama teman-temannya dua hari ini.

Pertama : Kesabaran
Bagi mahasiswa-mahasiswa yang ingin liburan bareng tentunya harus berangkat sesuai kesepakatan agar bisa menikmati perjalanan dengan baik. Namun terkadang, sangat sulit untuk berangkat tepat waktu, sehingga bagi yang datang duluan harus bersabar menunggu temannya yang belum datang. Lebih baik lagi kalau datangnya tepat waktu semua.
Hal ini juga berlaku ketika kita makan di warung (biasanya tempat makan yang menggunakan menu) di sela-sela perjalanan. Dengan anggota yang tidak sedikit, tentunya kita harus bisa bersabar atau mengalah untuk dapat bagian akhir dan mendahulukan orang lain. Nah, hal ini berhubungan dengan satu ayat alQur’an yang berbunyi “Innallaha ma’as shoobiriin”. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Karena telah bersabar menunggu, dapat bagian terakhir tidak buruk juga. Bisa dapat lebih biasanya. Tapi kalau kehabisan ya lain lagi urusannya. Pesan lagi aja :D

Kedua : Renungan
Melihat gulungan ombak di pantai mengingatkan kita pada tragedi 9 tahun silam di provinsi kelahiran penulis, Aceh. 26 januari 2004 tsunami menyapu bersih sebagian daratan disana. Ketika bebatuan dan karang menabrak kaki, sehingga membuat luka goresan. penulis jadi berpikir, gimana rasanya mereka ya, yang dibawa ombak bukan hanya batu dan karang saja. Tapi motor, mobil, rumah, dan lain-lain. Tak heran banyak korban yang berjatuhan. Semoga amal ibadah mereka di terima di sisi-Nya, Aamiin.

Ketiga : Memahami
Sebenarnya ini tentang koordinasi, bagi mahasiswa yang liburan bareng biasanya memiliki PJ atau penanggung jawab. Namun, tetap saja tidak semua mahasiswa memiliki pemikiran yang sama. Jadi ya harus saling memahami aja biar tidak terjadi masalah. Karena tujuan liburan kan buat senang-senang bareng dan mengurangi masalah. Bukan menambah masalah :D

            Sebenarnya masih banyak sih yang pengen ditulis. Tapi berhubung penulis menulis ini dengan sisa-sisa tenaga kemarin jadi dilanjutkan di lain kesempatan saja. Penulis juga manusia yang butuh istirahat :D . Intinya, setiap orang memiliki perjalanan masing-masing dan setiap dari mereka pasti bisa mengambil pelajaran-pelajaran yang berbeda dari setiap perjalanan masing-masing. Yang jelas bagi penulis setiap liburan bersama itu pasti menyenangkan. Dua hari kemarin juga menyenangkan, semoga sebelum pulang kampung bisa kesana sekali lagi.

            Maret tahun ini ditutup dengan indah. Semoga selanjutnya juga iya. selamat datang April, semoga bersahabat J.


Selamat beristirahat. 

Ini Makanan Daerahku? Daerahmu?

                Bicara tentang makanan tentu tak ada habisnya. Makanan memiliki jenis dan model yang sangat beragam. Dimulai dari makanan tradisional seperti makanan khas daerah sampai makanan western (baca:cepat saji/fast food). Mulai dari gorengan sampai bungkusan. Makanan memang sangat berhubungan dengan makhluk hidup, karena makhluk hidup membutuhkan makanan (semua juga tau). Cukup basa-basinya sekarang saya mau cerita sedikit tentang beberapa makanan khas daerah saya di Takengon, Aceh Tengah sana.

                Ceritanya ini pas ramadhan tahun kemarin saya pulang kampung, dan ini nih menu buka puasa perdana saya setelah dua tahun puasa di negeri orang (di rantau maksudnya). Tentunya kangen banget karena udah lama gak nyicipin masakan Ibu. Makanya pas itu Ibu masak banyak (biasanya juga banyak kok) tapi ini spesial :D.

1.       Depik
Depik merupakan ikan khas dari danu Lut Tawar (danau Lut Tawar ini merupakan danau yang terkenal keindahannya yang letaknya di dataran tinggi Gayo sana, tempat kelahiranku. Kalo penasaran indahnya gimana googling aja, atau liat langsung kesana kalau gak percaya, di lain waktu akan saya ceritakan). Ikan depik ini berbentuk kecil-kecil kira-kira seukuran jari. Dan istimewanya lagi ikan Depik ini Cuma ada di danau Lut Tawar saja lo. Kalau di Surabaya sini kira-kira bentuknya sama kayak wader. Nah, depik ini kalau digoreng kering rasanya Super! Tapi berhubung saya maniak sambel (baca:pedas) dan keluarga juga makanya disambel. Pokoknya enak deh, kalau pengen ngerasain pergi deh main-main ke Takengon. Sekalian singgah di rumahku. ;)



2.       Tarup Jipang (Daun Jipang)
Ini sebenarnya bukan makanan khas daerah sih, soalnya di Jawa juga ada (tapi belum pernah ketemu). Ini sayur kesukaan saya, bukan kesukaan orang banyak. Soal rasa ga usah tanya lagi. Kamu akan tahu kalau merasakannya sendiri. Kalau di tv sih katanya “lidah gak bisa bohong”. Kalau ada yang bilang ini gak enak, harap temui saya.



3.       Cecah angur
Cecah angur ini merupakan sambal terlezat dan terpedas (tergantung berapa cabenya) yang pernah ada. Dulu pas mondok kalau pulang teman-teman pasti banyak yang bawa. Bukan bawa sambelnya, tapi bahan-bahannya. Cara buatnya gampang kok tinggal nyampurin bahan-bahannya aja terus di-ulek. Bahan-bahannya ini (yang simpel dan extra pedas) cabe rawit, garam, terasi (ini cecah biasa khas anak pesantren). Tapi lebih enak lagi kalau ditambahi terung angur (terong belanda) yang disini belum pernah saya jumpai.



Ya mungkin itu dulu deh, sebenarnya masih banyak yang lain. Tapi nulisnya males haha (alesan). Pokoknya diantara kalian yang main-main ke Takengon entar saya ajak wisata kuliner. Biar kalian tahu apa itu Brahrom, mi Cimis (mungkin sebagian udah tau), Gutel dan tak lupa pula kopi. Kopi gayo yang terkenal itu lo, kalo gak tau jangan ngaku-ngaku maniak kopi. Iwan fals aja ngomong kalo Kopi Gayo itu Top! (Fakta!). Yasudah sekian, lain kali kita bahas lagi. Wassalam 

Awal Bulan. Bahagia atau Bencana?


            Awal bulan atau tanggal muda merupakan hal-hal yang dinanti-nanti untuk sebagian besar orang. Terutama bagi pekerja yang notabene menerima gajian di awal bulan, hal ini tentu menjadi salah satu kebahagiaan mereka saat itu. Namun, ada juga lo sebagian orang terutama kalangan mahasiswa / anak kos (termaksud saya) justru malah menghindari datangnya awal bulan (meski tidak mungkin). Mau tau sebabnya apa? check it out!

Untuk kalangan mahasiswa yang tinggal di kos (nge-kos) yang bayarnya bulanan, mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa tanggal muda menjadi bencana. Karena tantangan sebenarnya justru disini. Anak kos, yang masuknya di awal bulan biasanya mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan (meskipun tidak semuanya). Dikejar-kejar bapak/ ibu kos untuk membayar. Meskipun tidak semua pemilik kos seperti itu. Seperti pengalaman teman saya, meskipun sudah dekat dengan pemilik kos. Namun tetap saja kalau sudah masalah ini, tak ada istilah dekat atau tidak. Tetap saja harus membayar tepat waktu.

Emang sih, selaku anak kos kita juga harus tahu diri. Saya yakin teman-teman seperjuangan-kosan juga tau kok, kalau membayar kos itu adalah hal yang wajib dan emang harus dilakukan karena kita emang tinggal disana. Namun kepada pemilik kos juga diharapkan pengertiannya. Selaku anak kos, keadaan uang kami tidak menentu. Kadang sedang ada, kadang juga tidak. Meskipun sebagiannya menerima beasiswa atau sudah bekerja sambilan, juga belum tentu di awal bulan sudah punya duit buat bayar kos. Intinya saling pengertian aja deh, yang anak kos ya kalau bisa bayar tepat waktu ya tepat waktu. Kalau di awal bulan duitnya udah ada ya langsung dibayar aja dulu, kalau emang ga ada keperluan yang mendesak daripada duitnya habis buat hal yang sia-sia. Dan buat pemilik kos juga, kalau anak kosnya belum bisa membayar ya jangan dipaksa dulu, mungkin saja dia belum punya duit. Daripada dipaksa terus dia nekat mbongkar atm, atau merampok bank kan bahaya! (abaikan)  

Jadi intinya di tanggal muda itu banyak kejadian yang bisa terjadi. Kadang bisa buat orang seneng, kadang juga bisa buat orang merana. Yang seneng ya Alhamdulillah, yang merana semoga cepat berkurang populasinya. Agar semua orang merasakan kebahagiaan yang sama.

(sudah dulu, mau kabur sebentar, belum bayar kos)

(ngilang)

Musibah? Pelajaran untuk menjadi "Perasa"

                Akhir-akhir ini sering kali terjadi musibah di negeriku. Entah disebabkan oleh apa, yang jelas banyak yang bisa kita ambil hikmahnya dari hal tersebut. Dan yang kuyakini hingga saat ini, Dia pasti sudah mengatur semuanya di atas sana. Semua yang terjadi di negeriku juga pasti sudah tertulis bertahun-tahun lamanya di lauh Mahfud sana. Termasuk yang menimpaku dan beberapa teman kosku saat ini.
                Yaa, di awal tahun 2014 ini negeriku bak langganan oleh musibah-musibah yang tak terduga. Mulai dari kebakaran, banjir, hingga letusan gunung merapi. Kebakaran hutan yang menurut sebagian orang merupakan akibat dari pembakaran ilegal yang terjadi di riau sana, menyebabkan kabut asap menyelimuti Sumatera baik itu di Riau sendiri, Sumatera Barat, Sumatera Utara bahkan sampai juga di kampung halamanku Aceh Tengah. Banjir di ibukota yang menyebabkan banyak dari masyarakatnya kehilangan tempat tinggal karena harus mengungsi. Letusan gunung merapi juga, dimulai dari Sinabung hingga yang baru-baru ini terjadi yaitu Gunung Kelud. Dari keduanya banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian dari pemerintah karena rumah mereka yang rusak parah. Semoga saja, apa yang terjadi bisa menjadi pelajaran bagi kami semua dan bagi yang kehilangan tempat tinggal semoga diberi ketabahan dan kepedulian pemerintah.
                Tak lupa pula longsor di Wonosalam, Jombang, yang bahkan menimbulkan korban jiwa. Yaa, tentunya kita harus yakin bahwa di balik semua ini pasti ada hikmahnya. Tak perlu menyalahkan siapa-siapa. Kita hanya perlu introspeksi diri dan kalau bisa membantu sesama yang sedang mengalami musibah bencana.
                Sore ini juga, Surabaya diguyur hujan dengan derasnya. Tepatnya ketika sholat Ashar hujan dimulai. Karena hujan turun sangat deras, sebagian jama’ah sholat ashar menetap di masjid menanti redanya hujan, termasuk aku. Namun setelah beberapa lama, hujan tak kunjung reda. Karena kamar kosku ada yang bocor aku memaksakan diri untuk pulang. Biasanya emang gak sampai menggenang sih, namun sore ini karena debit air yang terlalu besar mungkin. Hingga bagian kamarku yang bocor tergenang air. Setelah di pel dan ditampung, karena memang saat itu masih hujan. Aku mulai beraktivitas seperti biasa. Namun tak lama dari itu, musibah ini dimulai. Sebenarnya Cuma musibah kecil sih, karena di luar sana pasti banyak orang yang malah sudah terbiasa mungkin dengan musibah seperti ini. Air hujan yang menggenang di luar masuk ke rumah yang punya kosan dan semua kamar kos. Terhitung ada tujuh kamar kos yang ada disini. Semuanya dimasuki air hujan. Hal yang pertama kali diselamatkan tentu barang berharga seperti laptop. Kemudian matikan listrik. Seharusnya kebalik ya?. Tapi itulah yang aku lakukan, setelah itu baru berurutan kasur, baju, buku semua yang ada di lantai dinaikkan ke meja agar tidak basah. Namun ada yang tak sempat kuselamatkan, 1 dus besar mahasantri yang beratnya kukira sampai 1 ton (kalo gak pasti sudah ku angkat). Yaa, buku mahasantri yang merupakan titipan dari teman-teman kassande bagian bawahnya sempat tergenang. Bukan bermaksud membiarkan, karena buku adalah harta utama bagi orang-orang sepertiku. Namun beratnya yang melewati batas kemampuanku. Menyebabkannya harus menetap disitu, berendam dalam air. Untungnya buku tersebut masih dilindungi sampul plastik sehingga masih bisa selamat.
                Begitulah ceritanya, kejadian ini membuat kami sadar bahwa (kami harus pindah kos, lho!). terkadang Tuhan menurunkan musibah untuk membuat kita belajar agar merasakan nasib saudara-saudara kita yang sedang mengalaminya. Kita gak boleh tutup mata, tutup telinga atas kejadian yang terjadi di negeri ini. ulurkan tangan kita selama kita bisa melakukannya. Karena memang mereka pasti membutuhkannya. Dan mari kita berdo’a semoga musibah di negeri ini segera mereda, agar kita bisa menjalani hidup seperti biasa lagi.


(Geje ya? Tulisan ini ditulis diatas banjir, dengan kaki yang terendam dalam air hujan, makanya kosakatanya aneh)